Hitung cepat tunjukkan Netanyahu kembali menangkan pemilu Israel

Rabu, 18 Maret 2015 09:38 Reporter : Ardyan Mohamad
Hitung cepat tunjukkan Netanyahu kembali menangkan pemilu Israel PM Israel Benjamin Netanyahu. (c) kaosenlared.net

Ini kemenangan besar bagi Likud dan rakyat Israel


- Binyamin Netanyahu

Merdeka.com - Pemilihan sela Israel digelar Selasa (17/3) untuk memperkuat dukungan pada pemerintahan Partai Likud yang kehilangan sekutu akhir tahun lalu. Hasil dari hitung cepat maupun exit poll Channel 2 TV menunjukkan partai Perdana Menteri Benjamin Netanyahu itu kembali mendapat mandat rakyat untuk memerintah.

Surat kabar the New York Times, Rabu (18/3) menunjukkan Likud memperoleh 27-28 kursi parlemen dari total 120 yang diperebutkan. Lewat akun Twitternya, Netanyahu mengklaim berhasil memenangkan pemilu. Hasil hitung cepat berbeda dari jajak pendapat pekan lalu yang mengatakan oposisi akan singkirkan Likud. "Ini kemenangan besar bagi Likud dan rakyat Israel," tulisnya.

Namun kemenangan ini belum tentu mengamankan posisi Netanyahu. Soalnya Serikat Zionis, koalisi gabungan Partai Buruh, Hatnua, dan beberapa partai sosialis lainnya, kemungkinan memperoleh 26 kursi.

Analis mengatakan Netanyahu harus segera mengamankan dukungan partai-partai sayap kanan. Politikus yang sudah tiga kali menjabat perdana menteri itu dua hari lalu mengeluarkan pernyataan kontroversial bila terpilih kembali. Dia berjanji mengerahkan segala upaya menggagalkan berdirinya negara Palestina yang berdaulat.

"Kami akan terus mengupayakan penyatuan seluruh wilayah Yerusalem (untuk Israel) sehingga tidak mungkin terpecah-pecah lagi," kata Netanyahu.

Ketika ditanya wartawan, apakah artinya Netanyahu tidak ingin ada Palestina yang berdaulat, dia menjawab "tentu saja."

Tanda kemenangan Netanyahu tidak disambut gembira oleh negara-negara lain. Bahkan penasehat politik Amerika Serikat, David Axelrod, mengkritik cara Netanyahu menarik simpati pemilih dengan retorika anti-Palestina.

"Pidato terakhirnya mungkin membantunya memenangkan pemilu. Tapi apa harga yang harus dibayar," tulis Axelrod melalui akun Twitternya.

Gidi Grinstein, peneliti dari Reut Institute, lembaga kajian keamanan Israel mengatakan Netanyahu dan Likud tidak bisa mengabaikan realitas bahwa Palestina semakin mendapat dukungan global.

"Pada akhirnya tidak mungkin seorang pemimpin Israel mengabaikan solusi dua negara," kata Gidi.

Pemimpin Serikat Zionis, Yitzhak Herzog, belum mengakui kekalahan. Selisih suara yang tipis menurutnya masih memberi peluang Partai Buruh dan kalangan politikus kiri untuk mengubah kebijakan Israel.

Kelompok sosialis adalah pendukung solusi dua negara, serta mengembalikan peta wilayah Israel pada perjanjian 1967. Artinya blokade Jalur Gaza bisa diakhiri.

"Justru ini merupakan capaian menggembirakan. Partai Buruh cukup lama tidak mendapat suara signifikan sejak 1992. Kini aspirasi rakyat adalah pemerintah yang memiliki visi sosial lalu berdamai dengan negara tetangga," kata Herzog mengomentari hasil hitung cepat.

Kursi parlemen (Knesset) hanya 120, tapi jumlah partai di Israel bejibun. Mustahil ada yang bisa merebut 61 kursi untuk membentuk pemerintahan mandiri tanpa koalisi.

Karena itu, setelah pemilu dua partai pemenang akan dipanggil Presiden Reuven Rivlin. Netanyahu dan Herzog akan diminta bernegosiasi membentuk pemerintahan. Skenario itu nyaris mustahil, karena Netanyahu dan Likud hanya mau membangun koalisi dengan partai agama garis keras. [ard]

Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini