Better experience in portrait mode.
Iklan - Geser ke atas untuk melanjutkan

Fransisco Guterres, pejuang yang kini jadi presiden baru Timor Leste

Fransisco Guterres, pejuang yang kini jadi presiden baru Timor Leste Francisco Guterres. ©2017 EPA

Merdeka.com - Timor Leste telah menggelar pemilihan presiden pertamanya sejak Perserikatan Bangsa-Bangsa menarik menarik seluruh pasukan penjaga perdamaian. Dari hasil penghitungan suara cepat, Francisco Guterres, dinyatakan keluar sebagai pemenang.

Selisih perolehan suara yang didapat Guterres dan rivalnya yang seorang Menteri Pendidikan, Antonio de Conceicao, cukup jauh. Guterres memperoleh suara 57 persen sementara Conceicao hanya mendapat 33 persen dari total suara masuk.

Dengan perolehan suara sebanyak itu, maka dipastikan tidak akan ada pilpres putaran kedua. Sebab, sama dengan Indonesia, syarat menang pilpres putaran pertama adalah salah satu kandidat harus memperoleh suara di atas 50 persen.

"Ini adalah keputusan dari para pemilih, dari rakyat. Saya akan membuat perubahan di banyak aspek dan fundamental. Saya ingin mengubah kondisi masyarakat dengan cara memberikan pelayanan kesehatan, pendidikan, serta ekonomi berkelanjutan yang lebih baik lagi, agar pembangunan nasional lebih cepat dicapai," kata Guterres seperti dilansir dari laman the Australian, Selasa (21/3).

Guterres dikenal sebagai tentara veteran yang telah berjuang selama 24 tahun untuk memerdekakan Timor Leste dari Indonesia. Dia merupakan politisi dari keluarga sederhana yang berafiliasi dengan Partai Fretilin dan Partai CNRT yang mana merupakan partai presiden pertama Timor Leste sekaligus proklamator negara tersebut.

Peran pria akrab disapa Lu-Olo di dunia politik memang tidak terlalu terdengar gaungnya. Hal itu berbanding terbalik dengan para pendahulunya seperti Xanana Gusmao, Jose Ramos Horta dan mantan Presiden Taur Matan Ruak, yang dianggap sebagai orang-orang pemegang jabatan paling penting di pemerintahan.

Kemenangan Guterres kembali menegaskan tentang pengaruh politik Gusmao yang dinilai cukup kuat. Ini juga menunjukkan betapa seluruh afiliasinya memegang kekuasaan cukup besar di negara tersebut.

Dengan terpilihnya Guterres sebagai presiden, maka di masa kepemimpinannya nanti dia harus berhadapan dengan cadangan minyak bumi yang semakin berkurang di negara tersebut. Selain itu, dia juga harus bisa mencapai kesepakatan dengan Australia terhadap ladang energi.

(mdk/tyo)
Geser ke atas Berita Selanjutnya

Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya

Buka FYP