Deretan Kasus Orang-Orang Menuntut ke Facebook di Dunia

Selasa, 12 Februari 2019 06:40 Reporter : Fellyanda Suci Agiesta
Deretan Kasus Orang-Orang Menuntut ke Facebook di Dunia Facebook Messenger. ©2018 cnbc.com

Merdeka.com - Aplikasi Facebook sudah digunakan oleh miliaran orang di dunia. Dengan adanya Facebook, setiap orang bisa membagikan informasi secara bebas. Namun sisi negatifnya, setiap orang menyebarkan informasi secara tak terkendali, menyebabkan timbulnya masalah.

Karena hal itulah, banyak yang menuntut Facebook untuk bisa mengatasi masalah tersebut. Berikut beberapa kasus orang yang menuntut Facebook:

1 dari 3 halaman

NAACP Serukan Boikot Facebook

aksi boikot Facebook. ©2018 The Guardian

Pada Desember 2018, Asosiasi Nasional untuk Kemajuan Orang Kulit Berwarna (NAACP) menyerukan boikot selama seminggu untuk Facebook dan Instagram. Hal ini mereka lakukan setelah mengetahui bahwa aplikasi tersebut sengaja digunakan untuk memanipulasi pemilih kulit hitam jelang pemilu AS 2016.

Laporan oleh Komite Intelijen Senat dan dilakukan oleh perusahaan intel online, New Knowledge, menunjukkan bagaimana kampanye disinformasi Rusia sebelum pemilu AS 2016, yang menargetkan pengguna Facebook kulit hitam. Cara ini meniru kelompok-kelompok seperti Black Lives Matter. Kampanye itu berupaya menekan suara Afrika-Amerika. Dengan demikian cara ini membantu memenangkan Donald Trump.

Perlu diketahui, NAACP merupakan organisasi hak-hak sipil di Amerika Serikat, yang dibentuk pada tahun 1909. Mereka berupaya memajukan keadilan bagi orang Afrika-Amerika oleh sebuah kelompok termasuk W. E. B. Du Bois, Mary White Ovington dan Moorfield Storey.

2 dari 3 halaman

Myanmar Protes ke Facebook

Facebook. © Dailymail.co.uk

Kelompok masyarakat sipil Myanmar protes pada CEO Facebook Mark Zuckerberg, karena Facebook gagal menekan penyebaran isu anti-Rohingya. Isu ini membuat suasana makin runyam antar umat beragama di negara itu.

Kelompok itu menuangkan protes mereka melalui surat terbuka. Sekaligus surat balasan untuk Zuckerberg, setelah ia berkomentar di situs berita Vox 2018 lalu. "Hal itu merupakan kejelasan bahwa orang-orang mencoba menggunakan platform kami untuk dapat menghasut bahaya yang nyata," kata Zuckerberg.

Facebook juga menentang tuduhan kelompok itu, karena dianggap menyulut pertumpahan darah di antara komunitas masyarakat Myanmar. "Sistem kami mendeteksi bahwa itu sedang terjadi (provokasi melalui Facebook). Kami menghentikan pesan-pesan tersebut supaya tak menyebar lebih lanjut," katanya.

3 dari 3 halaman

Kampanye Boikot Facebook Karena Data Bocor

Facebook. ©2015 shalomlife.com

Skandal penyalahgunaan data Facebook oleh konsultan politik Cambridge Analytica berbuntut panjang. Para pemrotes yang tergabung dalam Faceblock mengajak semua orang untuk ikut protes dengan cara tidak menggunakan aplikasi Facebook, Messenger, WhatsApp, dan Instagram selama 24 jam.

Kampanye pemboikotan Facebook ini dilakukan bersamaan dengan pernyataan Mark Zuckerberg terkait penyalahgunaan data di depan Congress AS, Rabu 11 April 2018.

Juru bicara kampanye Faceblock Laura Ullman mengatakan, kelompoknya begitu peduli dengan data pribadi dan bagaimana sebuah perusahaan harus mematuhi regulasi terkait data pribadi.

"Kami mengorganisasi aksi langsung yang melibatkan banyak pecinta Facebook tetapi ingin agar platform tersebut berbenah. Caranya dengan tidak menggunakan platform Facebook selama seharian. Ini merupakan demonstrasi virtual yang mudah dilakukan sekaligus menghadirkan pesan penting, bahwa kami menuntut platform yang lebih baik," kata Ullman.

[has]
Topik berita Terkait:
  1. Facebook
  2. Mark Zuckerberg
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini