Dari Hassan al-Banna, Sayyid Quthub hingga Mursi, Meraba Masa Depan Ikhwanul Muslimin

Rabu, 19 Juni 2019 07:31 Reporter : Pandasurya Wijaya
Dari Hassan al-Banna, Sayyid Quthub hingga Mursi, Meraba Masa Depan Ikhwanul Muslimin Muhammad Mursi. alarabiya.net

Merdeka.com - Mantan Presiden Mesir Muhammad Mursi dua hari lalu meninggal saat menjalani sidang pengadilan setelah sempat pingsan. Senin malam Jaksa Agung Mesir mengatakan jasad Mursi akan diperiksa untuk menentukan penyebab kematiannya. Stasiun televisi pemerintah mengutip sumber medis anonim mengatakan Mursi meninggal karena serangan jantung.

Mursi adalah pemimpin Ikhwanul Muslimin (IM) yang kemudian menjadi presiden terpilih melalui pemilu demokratis pertama kali pada 2012, setahun setelah pecahnya Musim Semi Arab yang kemudian membuat dia dikudeta oleh militer.

Organisasi Ikhwanul Muslimin selama ini dikenal sebagai gerakan internasional kaum Islamis yang menyebar dari Mesir.

Presiden Trump April lalu ingin memasukkan IM sebagai organisasi teroris setelah bertemu Presiden Abdul fatah al-Sisi. Langkah itu akan membuat IM terkena sanksi dan siapa pun yang berhubungan dengan IM juga akan kena sanksi.

Para pejabat di Pentagon dan Kementerian Luar Negeri AS menyatakan keberatan dengan usulan Trump. Mereka mengatakan IM tidak memenuhi definisi sebagai organisasi teroris dan keputusan Trump bisa berdampak kepada negara sekutu AS yang orang-orang di partai politiknya punya kaitan dengan IM.

IM yang merupakan organisasi Islam Sunni tertua dan terbesar di Mesir juga selama ini mengaku menolak terorisme dan kekerasan.

©Middle East Monitor

Dikutip dari laman the New York Times, organisasi Ikhwanul Muslimin awalnya adakah gerakan sosial yang dididirkan pada Maret 1928 oleh Hassan al-Banna, seorang guru yang bekerja di Kota Ismailia, dekat Terusan Suez. Hassan al-Banna mendirikan IM dengan alasan kebangkitan Islam akan membuat dunia muslim mampu mengejar ketertinggalan dari dunia Barat dan menggulingkan kekuasaan kolonial.

Namun misi IM lewat dakwah dan pengajaran kemudian cenderung mengarah ke politik meski al-Banna tidak secara tegas menjelaskan seperti apa pemerintahan berdasarkan ajaran Islam itu.

Dakwah dan pengajaran al-Banna menyebar luas sampai ke luar Mesir dan hari ini sebagian gerakan Islam politik, termasuk misi partai, lembaga amal di banyak negara, mengakar pada IM. Sebagian dari mereka memakai nama IM dan sebagian lagi tidak.

Partai politik yang punya kaitan dan merupakan turunan dari IM banyak terdapat di sejumlah negara sekutu AS seperti Yordania, Irak, Kuwait, Bahrain, Maroko, Turki, dan Tunisia.

Meski awalnya gerakan IM pada intinya menolak hal yang serba kebarat-baratan atau de-Islamisasi budaya muslim, namun gerakan ini kemudian menyadari untuk melakukan perlawanan demikian akan efektif jika mereka berada di tampuk kekuasaan.

Organisasi IM pada waktu itu kemudian menempatkan diri sebagai oposisi dari kekuasaan Inggris di Mesir dan mereka mendukung bentuk Negara Islam. Bagi mereka Islam dipandang tidak hanya sebagai keyakinan pribadi dan ritual tapi juga mencakup sistem lengkap menyeluruh untuk menjalankan yang pemerintahan yang berbeda dari sistem politik Barat.

Pada Desember 1948, seorang anggota IM membunuh Perdana Menteri Mahmud Fahmi al-Nuqrashi yang memerintahkan IM dibubarkan. Sejak itu organisasi IM kerap ditekan secara brutal.

Februari 1949 al-Banna dibunuh oleh polisi rahasia.

Pada 1954 Presiden Mesir Gamal Abdul Nassir memutuskan untuk melarang IM setelah dia menuding IM berupaya untuk membunuhnya.

Pada Agustus 1966, Sayyid Quthub, pentolan IM yang menjadi inspirasi ideologi radikal IM digantung oleh rezim Nassir.

Hingga Nassir meninggal pada 1970, ribuan anggota IM ditangkap dan sebagian bergerak di bawah tanah.

Pada 1971 Anwar Sadat yang menggantikan Nassir sebagai presiden mengampuni para tokoh IM.

6 Oktober 1981, Sadat yang dianggap dunia Arab sebagai pengkhianat karena menandatangani perdamaian dengan Israel tanpa mendapat hak konsesi bagi rakyat Palestina, dibunuh oleh militan Islam ekstrem.

Pada 1984, pengganti Sadat, Husni Mubarak, mengakui IM sebagai organisasi keagamaan dan menolak mengizinkan IM menjadi partai politik.

Pada 2005 setelah melalui pemilu legislatif pada simpatisan IM berhasil meraih seperlima kursi parlemen. Namun pada putaran pertama pemilu 2010 simpatisan IM tidak meraih kursi satu pun dan memboikot putaran kedua sekaligus menyebut pemilu dicurangi.

11 Februari 2011 Mubarak mundur dan menyerahkan kekuasaan ke militer setelah didemo besar-besaran. IM kemudian mendirikan sayap politiknya, Partai Kebebasan dan Keadilan.

Pada 2011-2012 IM dan sekutu Islamisnya meraih suara mayoritas dalam pemilu legislatif.

30 Juni 2012 Mursi, pemimpin IM yang menjadi kandidat presiden memenangkan 51, 73 persen suara dalam pemilu presiden. Dia kemudian dilantik sebagai presiden Mesir pertama yang dipilih oleh rakyat secara langsung.

REUTERS

3 Juli 2013, setelah demonstrasi berhari-hari, militer mengkudeta Mursi. Dia dan sejumlah pentolan IM ditahan.

Kini Mursi sudah tiada. Sebagai pemimpin IM, organisasi oposisi yang lebih sering bergerak di bawah tanah hingga dia menjabat presiden, sebagian kalangan memandang Mursi adalah presiden yang legitimasi diakui.

Pengamat menilai kematian Mursi bisa memicu serangan balik dari para pendukungnya.

"Tidak diragukan lagi, rezim ini tidak memberi ruang politik di Mesir bagi warga yang menjadi simpatisan IM. dan itu bisa memicu kekerasan," kata Daniel Benjamin, bekas duta besar dan koordinator kontraterorisme di Kementerian Luar Negeri AS, seperti dilansir laman PBS.

Kematian Mursi meninggalkan keretakan di IM. Sebagian anggota IM hidup di pengasingan di luar negeri, ribuan anggota mereka ditahan sejak 2013. Anggota IM kini kebingungan soal bagaimana mereka akan melanjutkan kiprahnya.

"Sejauh ini memang belum ada perpecahan secara resmi, tapi faksi di internal IM cukup rawan," kata Shadi Hamid dari Institusi Brookings. "Saya bisa katakan ini perpecahan internal terburuk dalam sejarah IM."

Dengan kemungkinan ada serangan balik dari IM atas kematian Mursi, pemerintahan Sisi kini berupaya mengantisipasi hal itu.

"Ketika seorang tokoh oposisi meninggal dalam kondisi semacam ini, wajar jika rezim waspada terhadap kemungkinan serangan balasan," kata Benjamin.

"Masalahnya, IM bukan sekadar organisasi," kata Hamid. "IM itu adalah ide, gagasan, dan ide tidak mudah dimusnahkan." [pan]

Topik berita Terkait:
  1. Mesir
  2. Muhammad Mursi
  3. Jakarta
Berikan Komentar
Komentar Pembaca

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini