AS tak punya pilihan selain mengakui Assad tak bisa dijatuhkan

Sabtu, 16 Desember 2017 07:31 Reporter : Pandasurya Wijaya
AS tak punya pilihan selain mengakui Assad tak bisa dijatuhkan assad bertemu putin di rusia. ©Sputnik

Merdeka.com - Majalah the New Yorker Senin lalu menyebut pemerintahan Amerika Serikat kini bersiap menerima kenyataan Presiden Suriah Basyar al-Assad tetap berkuasa hingga empat tahun ke depan. The New Yorker mengutip pernyataan pejabat AS dan Uni Eropa.

Assad akan berkuasa di Suriah hingga jadwal pemilihan umum presiden pada 2021 mendatang. Keputusan pemerintah AS ini bertolak belakang dengan pernyataan mereka selama ini yang mengatakan Assad harus lengser untuk menciptakan proses perdamaian di Suriah.

Pada Oktober lalu Menteri Luar Negeri AS Rex Tillerson mengatakan 'Amerika Serikat ingin Suriah yang bersatu tanpa peran Assad dalam pemerintahan.'

"Kekuasaan keluarga Assad sudah akan berakhir. Masalahnya adalah bagaimana hal itu bisa dilakukan," kata Tillerson kepada wartawan kala itu.

Namun kini AS tidak punya banyak pilihan karena kondisi militer di lapangan menunjukkan pasukan Suriah dibantu Rusia, Iran, dan Hizbullah berhasil meraih kemenangan dan mempertahankan rezim Assad. Presiden Rusia Senin lalu mengunjungi Suriah dan mendeklarasikan kemenangan mereka atas kelompok militan ISIS dan pasukan pemberontak dukungan negara Barat.

bashar al assad kunjungi pangkalan udara rusia

"Hanya dalam dua tahun, pasukan Rusia dan militer Suriah berhasil mengalahkan kelompok gabungan teroris internasional," ujar Putin di pangkalan udara Rusia di Provinsi Latakia, Suriah.

Dalam jumpa pers Selasa lalu Juru bicara Kementerian Luar Negeri AS Heather Nauert menyatakan pemerintah AS tidak yakin Assad akan bertahan dan Washington masih memegang teguh perjanjian proses perdamaian Jenewa.

"Kami masih memegang teguh proses Jenewa. Kami yakin masa depan Suriah tidak termasuk Basyar al-Assad, tapi berada di tangan rakyat Suriah," kata Nauert, seperti dilansir laman Sputnik News, Jumat (15/12).

Pengamat internasional Profesor Michael Brenner dari Universitas Pittsburgh dua hari lalu mengatakan, pemerintah AS harus mengakui Assad masih tetap bertahan karena dia memenangkan perang selama enam tahun ini dan AS tak bisa berbuat apa pun.

"Ini bukan soal pilihan, tapi karena berbagai kondisi yang memaksa. Assad memenangkan perang. Orang tidak bisa meraih kemenangan secara diplomatik jika sudah kalah perang," kata dia.

Sekarang manuver AS di Suriah saat ini ada dua tujuan, kata Brenner, yaitu menancapkan pengaruhnya di wilayah timur laut dan sebelah barat Suriah. Di sebelah timur laut akan didominasi oleh milisi Kurdi di bawah arahan AS dan di sebelah barat akan ditempati sisa-sisa pasukan ISIS dan kelompok-kelompok sekutu mereka yang dibiarkan melarikan diri dari Raqqa.

Menurut Brenner, Washington sudah menyadari kondisi ini dan kini sedang berusaha mencari posisi lewat negosiasi politik.

"Tapi ini masalah yang sudah mentok karena kita (AS) disingkirkan oleh Rusia, Turki, dan Iran," kata dia.

Pengacara hak asasi sekaligus pegiat perdamaian Dan Kovalik mengatakan jika Trump menerima kondisi Assad bertahan sebagai presiden Suriah hingga 2021 maka ini menandai berakhirnya masa kegelapan di Timur Tengah setelah selama ini AS selalu campur tangan dalam upaya pergantian rezim dan membuat sebuah negara hancur lebur.

"AS harus membiarkan rakyat Suriah menentukan nasib mereka sendiri lewat pemilu untuk memilih siapa pemimpinnya," kata Kovalik.

Baca juga:
AS meragukan Rusia tarik mundur pasukan dari Suriah
Ledakan bom hancurkan bus berpenumpang mahasiswa di Suriah, 8 tewas
Kepanikan warga Ghouta timur saat digempur pasukan Assad

Lebih dari 400 tentara Amerika tinggalkan Suriah

Israel luncurkan rudal serang pangkalan militer dekat Damaskus

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini