CEK FAKTA: Salah, Vaksin Covid-19 Sebabkan Penyakit Kulit

Kamis, 29 September 2022 14:35 Reporter : Merdeka
CEK FAKTA: Salah, Vaksin Covid-19 Sebabkan Penyakit Kulit Pemberian vaksin Covid-19 untuk Bayi dan Balita di Amerika. ©2022 REUTERS/Hannah Beier

Merdeka.com - Sebuah narasi tentang vaksinasi Covid-19 kembali beredar. Baru-baru ini klaim vaksin Covid-19 menyebabkan berbagai penyakit kulit.

Sebuah akun Facebook, Anto Kampleng tampak membagikan kembali hasil tangkapan layar dari akun lain dengan keterangan sebagai berikut,

Berbagai kasus penyakit kulit setelah paksainasi copet19 mulai muncul di jurnal medis.
Twatter tidak akan membiarkan saya mempostingnya tautan, tentu saja.”

Keterangan tersebut diklaim merupakan terjemah dari tangkapan layar cuitan Twitter akun bernama @RitaleRoux11 yang juga menampilkan sosok dengan berbagai penyakit kulit.

Narasi serupa juga diunggah oleh akun Twitter @Foamwatcher yang menyertakan tangkapan layar unggahan dari @AdverseReports .

Yang menyesatkan itu mengapa pejabat kesehatan menganggap vaksin kopit all varian oplos aman bagi sebagian besar orang ??? kan begitu, brengsek nih label peringatannya. Pandemi brengsek jari tengah untuk pandemi abal-abal ini, Fvckem all about this hoax pandemic big scam ever ! !,” tulis akun @Foamwatcher.

cek fakta salah vaksin covid 19 sebabkan penyakit kulit
©Facebook

Penelusuran

Dilansir dari kompas.com, foto penyakit kulit yang tersebar di media sosial diambil dari sebuah jurnal di laman onlinelibrary.wiley.com berjudul Development of severe pemphigus vulgaris following ChAdOx1 nCoV-19 vaccination and review of literature (Perkembangan pemfigus vulgaris parah setelah vaksinasi ChAdOx1 nCoV-19 dan tinjauan literatur).

Kasus adanya gejala pemfigus vulgaris tersebut terjadi setelah mendapat vaksin ChAdOx1 nCoV-19 (Covishield) kedua. Vaksin tersebut merupakan vaksin rekombinan yang dikembangkan oleh Oxford-Astra Zeneca dan diproduksi di India oleh Serum Institute of India (SSI) dengan nama Covishield® sehingga hanya diberikan di India. Kasus pemfigus vulgaris tergolong langka selama proses vaksinasi dilakukan di sana.

Pada saat dilakukan uji coba 1 dan 2, vaksin tersebut dinyatakan aman. Kemudian, pada uji coba fase 3 menunjukkan kemanjuran vaksin menjadi 78% untuk penyakit bergejala dan 100% untuk infeksi Covid-19 bergejala parah atau kritis.

Gejala efek samping vaksin yang sering muncul ialah nyeri di tempat suntikan, sakit kepala, kelelahan, dema, dan menggigil. Gejala itu lebih ringan dan lebih jarang ditemukan setelah dosis kedua.

Jurnal tersebut menuliskan hingga saat dipublikasikan, yakni 29 Maret 2022, hanya ada empat kasus pemfigus vulgaris awitan baru setelah vaksinasi Covid-19 yang telah dilaporkan. Sedangkan, dalam catatan lain, pemfigus vulgaris juga ditemukan setelah vaksinasi dengan vaksin rabies, hepatitis B, Influenza, dan antraks.

“Meskipun kasus ini dapat mewakili suatu kebetulan, namun, hubungan temporal, kelangkaan penyakit, tidak adanya faktor pemicu seperti obat-obatan atau infeksi dan kasus serupa yang dilaporkan dari serangan pemfigus setelah vaksin COVID-19 menunjukkan kemungkinan kausalitas,” tulisnya dalam jurnal tersebut.

Merujuk pada laman Asosiasi Akademi Dermatologi Amerika (AAD), sejak pandemi merebak, dokter kulit kini telah mengumpulkan banyak data tentang reaksi kulit yang disebabkan oleh Covid-19 dan vaksinnya.

Dermatologis bersertifikat Esther Ellen Freeman MD, PhD, FAAD menjelaskan, manusia memiliki variabilitas besar dalam respons kekebalan yang dapat menyebabkan bereaksi berbeda terhadap kulit.

“Data dari penelitian besar di Eropa menunjukkan kepada kita bahwa sekitar 10 persen pasien Covid-19 akan mengalami reaksi kulit. Dari pasien yang mengalami ruam, sekitar 20 persen akan mengalami ruam baik sebagai satu-satunya tanda dan gejala Covid-19 atau tanda dan gejala pertama Covid-19,” kata Freeman.

Kesimpulan

Narasi tentang vaksin Covid-19 menyebabkan penyakit kulit adalah hoaks. Reaksi kulit, terutama pemfigus vulgaris hanya terjadi pada 4 orang di dunia dan vaksin bukan menjadi satu-satunya penyebab.

Jangan mudah percaya dan cek setiap informasi yang kalian dapatkan. Pastikan itu berasal dari sumber terpercaya, sehingga bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Referensi

https://www.facebook.com/photo?fbid=119491604228891&set=a.102543819257003
https://onlinelibrary.wiley.com/doi/10.1111/jocd.14945
https://www.kompas.com/cekfakta/read/2022/09/29/091800882/-hoaks-vaksin-covid-19-menyebabkan-berbagai-penyakit-kulit?page=all#page2

Reporter Magang: Aslamatur Rizqiyah

[lia]

Komentar Pembaca

Ingatlah untuk menjaga komentar tetap hormat dan mengikuti pedoman komunitas kami

Be Smart, Read More

Indeks Berita Hari Ini

Opini