Wuling Motors harap bisa tingkatkan ekonomi Indonesia
Pabrik PT SGMW Motors Indonesia (Wuling Motors) resmi memulai produksi massalnya di Indonesia dengan produk pertamanya Confero S. Nilai investasi dari perusahaan otomotif asal China ini mencapai USD 700 juta.
Pabrik PT SGMW Motors Indonesia (Wuling Motors) resmi memulai produksi massalnya di Indonesia dengan produk pertamanya Confero S. Nilai investasi dari perusahaan otomotif asal China ini mencapai USD 700 juta.
Wakil Presiden PT SGMW Motor Indonesia Cindy Cai mengatakan Indonesia merupakan pasar otomotif terbesar di Asia Tenggara. Ini merupakan alasan PT SGMW membuka anak perusahaannya di Tanah Air.
"Indonesia adalah salah satu market otomotif terbesar di Asia Tenggara. Perekonomian Indonesia juga sangat stabil. Jumlah penduduk besar jadi kami merasa Indonesia lahan yang sangat cocok untuk kami berinvestasi," kata Cindy di pabrik PT SGMW Motor Indonesia, Cikarang, Selasa (11/7).
Dia menambahkan, pengembangan proyek di Indonesia merupakan kesempatan untuk membangun operasi strategis. Tidak hanya untuk pasar Indonesia, namun juga untuk membangun basis ekspor untuk pasar Asia Tenggara.
Chairman of the board of SAIC Group and SGMW, Chen Hong berharap PT SGMW Indonesia bisa berhasil untuk pembangunan jangka panjang, melihat kondisi ekonomi Indonesia yang stabil.
"Ke depannya kami akan terus berjalan dan berkembang di bawa strategi Wuling, sebagai brand utama kita. Dengan kesatuan dan perjuangan tenaga kerja Indonesia sebagai dasar Wuling demi upaya untuk menyediakan produk berkualitas tinggi dan layanan terhadap masyarakat Indonesia," pungkas Chen.
Baca juga:
Ini strategi Wuling Motor untuk kalahkan mobil Jepang
Kemenperin optimis industri tekstil RI tumbuh 1,8 persen di 2017
Ekspor tekstil tak bergairah, pengusaha kurangi jam kerja karyawan
Perluasan 2.200 hektar kawasan industri Konawe gerus lahan pertanian
7 Tahun tak buat laporan keuangan, Bos PT PDP didenda Rp 77 miliar
Pusat riset Apple di BSD akan setara di California
Gubernur Riau minta regulasi lahan gambut tak ganggu industri kertas