Tekan kerugian jual Premium, Pertamina diminta optimalisasi sektor hulu
Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN, Fajar Harry Sampurno, mengatakan saat ini Kementerian BUMN sedang dilakukan pembahasan, untuk meredam kerugian Pertamina, yang diakibatkan penyaluran BBM Premium. Salah satunya adalah mengandalkan optimalisasi di sektor hulu.
Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah mencari cara agar PT Pertamina (Persero) tidak rugi saat wajib kembali menyediakan Premium di seluruh wilayah Indonesia. Salah satu cara untuk menutupi kerugian adalah mengandalkan optimalisasi di sektor hulu.
Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN, Fajar Harry Sampurno, mengatakan saat ini Kementerian BUMN sedang dilakukan pembahasan, untuk meredam kerugian Pertamina, yang diakibatkan penyaluran BBM Premium.
"Ini sedang kami bahas, di Kementerian BUMN kita fokus bagaimana Pertamina untuk bisa mereduce kerugian caranya gimana," kata Fajar, di Jakarta, Kamis (12/4).
Menurut Fajar, Pertamina tidak bisa lagi menggunakan cara lama dengan mengandalkan subsidi sebagai peredam kerugian. Sebab, saat ini, pemerintah hanya memberikan subsidi untuk Solar saja.
"Tentunya tidak dengan cara yang sekarang namun cara-cara lain. Kalau subsidi kan menkeu udah bilang bolehnya cuma nambah solar. Kan bisa yang dari hulu," paparnya.
Namun, saat ini Kementerian BUMN belum menerima keterangan resmi dari Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM). Terkait dengan perubahan status Premium di Jawa, Madura dan Bali (Jamali) menjadi penugasan.
"Recara resmi saya belum terima, kami belum terima bentuknya seperti apa," tandasnya.
Reporter: Pebrianto Eko Wicaksono
Sumber: Liputan6
Baca juga:
Pertamina minta penandatanganan kontrak blok terminasi diundur
Saham PGN dialihkan ke Pertamina, holding BUMN migas resmi berdiri
Harga Pertalite naik, ESDM ingin konsumsi Premium kembali normal
Pertamina soal harga BBM diatur pemerintah: Rugi yasudah, wong duit negara
Pertamina sebut tumpahan minyak di teluk Kalimantan capai 40.000 barel
Pertamina rugi Rp 200 per liter saat menjual Pertalite
Ini alasan masyarakat sulit dapat pasokan premium