Tanpa inovasi teknologi, BPR terancam hilang tergantikan fintech
Wakil Ketua Kompartemen Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Syahril T. Alam mengingatkan agar BPR konvensional maupun syariah mulai menyesuaikan dari sistem tradisional menjadi teknologi. Sebab, menurut dia, teknologi tidak bisa dihindari, bahkan justru semakin berkembang pesat.
Perusahaan finansial teknologi diprediksi bakal menjadi ancaman bagi lembaga keuangan khususnya Bank Perkreditan Rakyat (BPR) di Indonesia. Oleh karena itu, bank yang bergerak di jasa peminjaman tersebut dinilai wajib menyesuaikan zaman.
"Kalau sekarang pengaruhnya perusahaan fintek belum signifikan," kata Wakil Ketua Kompartemen Asosiasi Bank Syariah Indonesia (Asbisindo) Syahril T. Alam, Senin (2/7).
Sebabnya, kata dia, pasar BPR konvensional maupun BPR syariah mayoritas adalah pelaku usaha kecil menengah yang membutuhkan permodalan rata-rata di bawah angka Rp 50 juta. Sementara, perusahaan fintech pasarnya cenderung nasabah pribadi.
Namun demikian, dia mengingatkan agar BPR konvensional maupun syariah mulai menyesuaikan dari sistem tradisional menjadi teknologi. Sebab, menurut dia, teknologi tidak bisa dihindari, bahkan justru semakin berkembang pesat.
"Perusahaan jasa butuh teknologi, agar bisa bersaing untuk memperkuat jaringan," ujar pria yang juga Direktur Utama BPR Syariah Patriot Kota Bekasi ini.
Dia memprediksi lima tahun ke depan perusahaan fintech tumbuh cukup pesat. Maka dari itu, persiapan dari sekarang dianggap cukup penting, sehingga ketika perusahaan fintech baru bermunculan, maka BPR konvensional dan syariah yang masih menggunakan sistem tradisional tak akan gulung tikar. "Tapi, tetap mempertahankan sistem tradisional," kata dia.
Dia mengatakan, pelayanan paling dicari nasabah adalah kemudahan dalam pemberian pinjaman. Tapi, tentunya tidak mengabaikan sistem keamanan untuk menagih angsuran pinjaman itu sendiri.
Direktur Utama BPR Dana Karunia Sejahtera, Dhirun, mengakui belum terpengaruh dengan bermunculnya perusahaan fintech beberapa tahun terakhir, meskipun pertumbuhan perusahaan sempat tak bergerak di periode 2016-2017. Dia mengatakan, pihaknya masih yakin dengan sistem tradisional perusahaannya akan terus eksis, bahkan bisa bersaing dengan perusahaan fintech. "Pasar kami beda dengan perusahaan fintech," ujar dia.
Dia mengatakan, justru bank umum yang memberikan bunga rendah kini menjadi tantangan berat bagi BPR. Meski demikian, kata dia, pihaknya akan memanfaatkan nasabah yang ditolak oleh bank umum karena kekurangan persyaratan administrasi. "Kami memberikan fasilitas tidak terlalu sulit seperti bank umum," ujar dia.
Dia menambahkan, BPR yang dipimpinnya masih eksis sampai hari ini sejak didirikan pada tujuh tahun silam. Adapun nilai asetnya mencapai Rp 58,4 miliar, sedangkan aset kredit mencapai Rp 41 miliar. Tahun ini, pihaknya menargetkan aset tumbuh hingga Rp 70 miliar, sedangkan aset kredit sampai Rp 50 miliar.
Baca juga:
Resmi, OJK cabut izin usaha BPR Mega Karsa Mandiri
Maret 2018, aset industri BPR tembus Rp 127 triliun
Dirut BPR KS BAS Bali ditangkap gelapkan dana Rp 24,2 M lewat kredit fiktif
OJK cabut izin usaha PT BPR KS Bali Agung Sedana
Industri BPR-BPRS siap lakukan digitalisasi dan jadi mitra UMKM
Agar lebih efisien, BPR didorong pakai teknologi terapkan layanan perbankan
OJK: BPR kuat bersaing, pencabutan izin itu karena dicuri pengelola