Tak Punya Keterampilan Dagang, Banyak Calon Wirausahawan Balik Jadi Pekerja
Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Binapenta dan PKK) Kementerian Ketenagakerjaan, Suhartono, menyoroti fenomena banyaknya calon wirausahawan yang gagal membangun bisnis lantaran tak punya cukup kemampuan untuk berdagang.
Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Binapenta dan PKK) Kementerian Ketenagakerjaan, Suhartono, menyoroti fenomena banyaknya calon wirausahawan yang gagal membangun bisnis lantaran tak punya cukup kemampuan untuk berdagang.
Gambaran situasi ini didapatkannya lantaran dia banyak melihat calon pengusaha yang ikut pelatihan (workshop), namun hanya punya bekal sebagai produsen saja.
"Kami melatih orang ribuan, tapi kemudian setelah mereka punya skill hanya bisa memproduksi saja. Maunya kami, dia memproduksi dan dia bisa langsung jual," ujar dia dalam sesi webinar, Rabu (30/9).
"Ketika saya akan berwirausaha, saya katakan buka bengkel, kami punya workshop untuk melatih orang bisa untuk itu. Tapi ketika dia kita latih, akhirnya dia jadi seorang pekerja lagi. Harus menerima upah yang katakanlah UMR juga," ungkapnya.
CEO Bukalapak Rachmat Kaimuddin turut buka suara atas fenomena tersebut. Dia menceritakan pengalamannya ketika berhadapan dengan pedagang sekaligus produsen kelas UMKM di Bukalapak online marketplace.
"Produsen-produsen, terutama produsen UMKM mengalami kesulitan untuk berdagang. Kita kasih contoh, ada produsen UMKM binaan salah satu kementerian, ke tempat kita, kita taro di depan (marketplace) terus saya coba order. Ordernya lama. Pertama malah enggak dikirim," tuturnya.
Berdasarkan cerita tersebut, Rachmat mengambil kesimpulan jika produsen dan pedagang merupakan dua profesi yang berbeda. "Jadi banyak orang yang bisa berproduksi, tapi enggak punya niat/skill/kemampuan untuk menjadi merchant," sambungnya.
Rachmat pun menyarankan kepada para calon wirausahawan agar lebih bisa mempersiapkan skill berdagangnya. Atau paling tidak, para pedagang tersebut dapat membentuk suatu grup atau perkumpulan yang di dalamnya ada satu penjual.
"Kuncinya mungkin buat produsen-produsen yang mengalami kesulitan, mungkin bisa dipertemukan dengan pedagang-pedagang yang sudah mumpuni. Jadi barangnya bisa dibantu untuk dijualin. Modelnya bisa macem-macem, bisa sistem consignment atau konsinyasi, jadi reseller istilahnya," imbuhnya.
Reporter: Maulandy Rizky Bayu Kencana
Sumber: Liputan6.com
Baca juga:
Banting Setir Jual Masker, Pengusaha Kaos Kaki Raup Rp50 Juta Per Bulan
Kisah Fiona Wiputri, Menyulut Keuntungan Saat Pandemi dari Lilin Aromaterapi
Cetak Wirausaha Baru, Kemenkop UKM Gelar Program Magang
Tips Memulai Usaha dari Nol di Tengah Pandemi Covid-19
Membuat Nama yang Keren untuk Usaha, Buat Bisnis Anda Mudah Dikenal
7 Jenis-jenis Usaha yang Menjanjikan dan Membutuhkan Modal Kecil