Strategi ini bisa digunakan investor saat pasar saham anjlok
Strategi investasi di tengah koreksi indeks yang dalam ialah investor harus berani masuk karena harga saham cenderung lebih murah. Tapi harus selektif pada saham-saham unggulan alias blue chip yang menyediakan likuiditas tinggi.
Awan gelap nampaknya masih menggelayuti pasar saham Tanah Air. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turun dari posisi 6.000 lebih di awal tahun, kini dalam waktu sebulan mendekati 5.500.
Seperti diketahui, strategi perdagangan di bursa saham yaitu beli saat harga rendah dan jual ketika harga sedang naik. Teori itu berlaku ketika pasar sedang normal. Namun bagaimana ketika pasar sedang turun seperti sekarang? Apakah harus tetap menunggu sampai keadaan membaik, atau harus cut lost? Atau apa perlu menerapkan strategi lain?
Direktur Utama PT Reliance Sekuritas Tbk (RELI), Anita menyampaikan, volatilitas merupakan hal yang wajar dalam berinvestasi.
"Bagi para risk taker, ketika indeks turun tajam, justru momen tepat untuk kembali mengoleksi saham-saham pilihan, blue chips yang mengalami koreksi dalam," ujar Anita di Jakarta, Jumat (11/5).
Untuk itu, strategi investasi di tengah koreksi indeks yang dalam ialah investor harus berani masuk karena harga saham cenderung lebih murah. Tapi harus selektif pada saham-saham unggulan alias blue chip yang menyediakan likuiditas tinggi.
Katanya, dalam situasi apapun, investor jangan pernah panik. Sebab, ketika market mulai pulih kebanyakan investor sering kehilangan kejadian penting tersebut. Akibatnya para investor biasa menjual sahamnya terlalu cepat. Padahal, kejadian-kejadian tersebut terkadang hanya berlangsung sesaat.
"Jika investor panik, justru tindakan investasinya nanti jadi tidak rasional, rugi sedikit langsung jual," ucap Anita mengingatkan.
Dalam pandangannya, pasar boleh saja terkoreksi dalam, namun bagi mereka yang memiliki prinsip investasi jangka panjang, selalu meraih cuan karena koreksi selalu diikuti dengan kenaikan dalam rentang jangka panjang. "Keuntungan investasi jangka panjang ditemukan dalam hubungan antara volatilitas dan waktu. Jangan lupa, investasi jangka panjang juga bisa menghemat biaya lainnya, seperti biaya transaksi dari perdagangan aktif," katanya.
Di saat kondisi bursa memerah, disarankan untuk melakukan diversifikasi investasi. Investasi yang lebih berisiko bisa mulai dialihkan seperti ke obligasi atau pasar uang. Proses ini dapat meningkatkan manfaat aset alokasi sehingga portofolio investasi mungkin tidak terlalu terpengaruh oleh volatilitas pasar jangka pendek yang dibandingkan jika hanya berinvestasi dalam satu jenis aset.
Sementara bagi mereka yang bermodal besar, tak ada salahnya ketika kondisi pasar sangat volatile, untuk menyerahkan pengelolaan investasi kepada para profesional seperti kepada perusahaan sekuritas terpercaya. Namun, kata Anita, investor juga harus memiliki target masa waktu dan toleransi rugi yang terukur. "Di tengah pasar volatile, berbagai isu sering muncul tiba-tiba. Banyak berita berseliweran yang kadang mengganggu strategi investasi."
Kata Anita, para investor harus dapat mengendalikan diri dari berita buruk yang dapat mengubah tujuan investasi jangka panjang. Harus diakui bahwa investasi yang sukses bersifat maraton ataupun sprint.
"Untuk tetap fokus, ada baiknya untuk tetap berhubungan dengan profesional keuangan. Mengenal kondisi pribadi serta situasi keuangan dapat memberikan saran yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan keuangan," tegasnya.
Menurutnya, investasi saham tetap layak dipilih dan prospektif, jika digunakan untuk jangka panjang. Atau, bisa juga, mulai mengoleksi reksadana saham yang portofolionya terdiri dari saham-saham blue chips atau yang berbasis saham indeks LQ45. RELI juga memiliki indeks LS-27 juga yang berisi saham-saham unggulan yang dipantau secara berkala oleh tim riset.
Berdasarkan sejarah penurunan nilai IHSG, biasanya diikuti lagi dengan kenaikan. Pada 2007, level tertinggi IHSG mencapai 2.745. Sekitar 10 kali dari nilai terendahnya di tahun 1998. Begitu juga saat tahun 2008, IHSG mencapai nilai terendah di bawah 1.100 kemudian memecahkan rekor hingga 5.214 di bulan Mei 2013. Kenaikan hingga 5 kali lipat dalam 5 tahun.
"Dari data di atas dapat dilihat bahwa secara historis, investasi pada komponen saham di IHSG dalam jangka panjang bisa menguntungkan secara signifikan."
Dengan membeli reksadana saham atau saham saat ini, para investor berkesempatan memperoleh untung dalam jangka panjang. Investor saham pun bisa menikmati penghasilan deviden yang dibagi berkala dari keuntungan perusahaan. Agar hasil investasi maksimal, investor juga perlu menerapkan money management, alias menempatkan dana tidak dalam satu tempat. Sehingga potensi kerugian dapat diminimalkan. Mengetahui jangka waktu berapa lama berinvestasi juga bisa menghindarkan dari kegagalan investasi.
"RELI menawarkan beragam produk investasi, mulai dari produk saham, hingga reksadana. RELI merupakan perusahaan sekuritas terpercaya dengan rekam jejak positif dan mengedepankan pengelolaan dana nasabah secara prudent," tegas Anita.
Baca juga:
Pasar saham tengah bergejolak, dalam bahayakah dana kelolaan BPJS Ketenagakerjaan?
10 Anak usaha BUMN bakal melantai di bursa saham tahun ini
Bekasi Fajar Industrial Estate sebar dividen Rp 96,47 miliar
Resmi melantai di bursa, saham BTPN Syariah naik 23,08 persen
Resmi melantai di bursa, saham BRIsyariah langsung melonjak 19,61 persen