LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Sri Mulyani: Subsidi 2022 Rp502 T Tak Cukup Jika Harga Minyak Dunia Terus Tinggi

Tahun ini pemerintah telah menganggarkan dana subsidi energi sebesar Rp 502 triliun. Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, jatah subsidi untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak akan cukup sampai akhir tahun.

2022-08-23 16:08:45
Subsidi Energi
Advertisement

Tahun ini pemerintah telah menganggarkan dana subsidi energi sebesar Rp 502 triliun. Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati mengatakan, jatah subsidi untuk Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak akan cukup sampai akhir tahun.

"Dengan harga BBM minyak dunia yang terus menerus tinggi, Rp 502 triliun, diperkirakan akan habis dan masih belum mencukupi," kata Menteri Sri Mulyani dalam Rapat bersama Badan Anggaran DPR-RI di Kompleks DPR-MPR, Jakarta, Selasa (23/8).

Alasannya, tingkat konsumsi masyarakat saat ini mengalami peningkatan. Sehingga jika tingkat konsumsi sampai akhir tahun seperti 7 bulan terakhir maka perlu ada penambahan anggaran subsidi.

Advertisement

"Kita memperkirakan apabila laju konsumsi seperti yang terjadi pada 7 bulan terakhir ini, maka Rp 502 triliun akan habis dan masih akan ada tambahan lagi," kata dia.

Pemerintah Tahan Harga BBM

Kebijakan tersebut, kata Menteri Sri Mulyani, sebagai akibat dari konsekuensi yang diambil pemerintah untuk menahan kenaikan harga energi. Baik harga BBM yang bersubsidi dan non subsidi serta tarif listrik.

Advertisement

"Kebijakan tersebut adalah konsekuensi dari kebijakan tidak menyesuaikan harga bbm dan listrik, serta tidak ada kenaikan harga minyak dari kenaikan BBM yang diatur pemerintah," tuturnya.

Padahal, di tingkat global harga minyak dunia (ICP) terus merangkak naik. Namun, pemerintah mengambil keputusan untuk menahan dampak kenaikan tersebut menggunakan instrumen Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

"Sementara harga ICP dalam perekonomian global terus mengalami kenaikan, inilah yang disebut sebagai shock absorber. APBN mengabsorb syok yang sangat besar yang berasal dari kenaikan BBM atau ICP yang terjadi secara global," kata dia.

(mdk/bim)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.