Sri Mulyani & Menperin pacu kinerja industri kulit dan alas kaki
"Untuk itu diperlukan koordinasi yang kuat dengan lintas sektor sehingga industri kulit, alas kaki dan aneka kita bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan menjadi negara eksportir kelas dunia."
Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto dan Menteri Keuangan Sri Mulyani menegaskan komitmen pemerintah untuk mendukung pengembangan industri kulit, alas kaki dan aneka Tanah Air. Kedua menteri ini sepakat dalam acara dialog dengan para pelaku industri kulit di Kementerian Perindustrian, kemarin.
Dalam sesi diskusi yang dihadiri 150 investor dan pelaku industri tersebut, kedatangan Menteri Keuangan bersama Menteri Perindustrian ini disambut positif oleh para peserta.
Dalam kesempatan itu, Airlangga mengatakan akan terus mendorong peningkatan kinerja industri kulit, alas kaki dan aneka karena merupakan kelompok industri pengolahan yang dikategorikan sebagai sektor prioritas dalam pengembangannya. Kelompok industri ini juga berperan strategis sebagai penghasil devisa negara.
"Untuk itu diperlukan koordinasi yang kuat dengan lintas sektor sehingga industri kulit, alas kaki dan aneka kita bisa menjadi tuan rumah di negeri sendiri dan menjadi negara eksportir kelas dunia," katanya.
Airlangga menyampaikan, industri kulit, alas kaki dan aneka memberikan kontribusi terhadap nilai ekspor sebesar USD 12,28 miliar atau 8,17 persen dari total ekspor nasional pada tahun 2015. Selain itu, kelompok industri mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 1,1 juta orang atau 7,7 persen dari total tenaga kerja industri manufaktur dan jumlah nilai investasinya mencapai Rp 22,8 triliun.
"Pada triwulan II tahun 2016,pertumbuhan industri kulit, barang dari kulit dan alas kaki sebesar 7,74 persen, sedangkan pertumbuhan industri aneka mencapai 3,84 persen," ungkapnya.
Menteri Keuangan, Sri Mulyani mengatakan. tujuan kedatangannya ke acara itu adalah ingin mengetahui secara langsung mengenai kendala yang dihadapi para investor dalam berusaha di Indonesia. "Saya datang ke sini mau mendengar langsung dari pelaku industri apa sebetulnya keluhan dari segi policy, karena dari segi pemerintah, industri ini yang menciptakan kesempatan kerja cukup banyak," ujarnya.
Untuk itu, kata Menkeu, pihaknya juga akan mendorong pelaku industri untuk terus menciptakan nilai tambah produk. "Kami akan mendukung apa yang bisa dilakukan industri ini untuk terus berkreasi dan berinovasi, sehingga tidak hanya bersaing di dalam negeri, tetapi juga mampu ekspor."
Baca juga:
Punya harga gas murah, Malaysia coba 'curi' pengusaha kaca Indonesia
BPS: Nilai impor cangkul tidak besar, apalagi harganya murah
Kemendag beri izin impor 1,5 juta cangkul dari China
Pemerintah tunjuk 3 BUMN penuhi kebutuhan 10 juta cangkul nasional
Ini penjelasan pemerintah kenapa RI sampai harus impor cangkul