Sri Mulyani dinilai realistis soal pertumbuhan ekonomi 2018 tak capai target
Ketidakpastian situasi perekonomian global, depresiasi nilai tukar Rupiah, plus defisit transaksi berjalan memang mengharuskan pemerintah untuk tidak memperkirakan realisasi pertumbuhan ekonomi yang terlampau tinggi.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati memprediksi pertumbuhan ekonomi 2018 berada pada rentang 5,14 sampai 5,21 persen. Angka ini di bawah prediksi pemerintah dalam Anggaran Penerimaan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar 5,4 persen.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Mohamad Faisal menilai pemerintah cukup realistis dalam menetapkan pertumbuhan ekonomi tersebut.
Menurut dia, ketidakpastian situasi perekonomian global, depresiasi nilai tukar Rupiah, plus defisit transaksi berjalan memang mengharuskan pemerintah untuk tidak memperkirakan realisasi pertumbuhan ekonomi yang terlampau tinggi.
"Dengan angka itu pemerintah lebih realistis, dengan melihat perkembangan ekonomi global dan domestik hingga saat ini khususnya pergerakan Rupiah dan defisit perdagangan dan transaksi berjalan," kata dia, saat dihubungi Merdeka.com, Jumat (14/9).
Meskipun demikian, Faisal mengatakan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2018 masih bisa tumbuh di atas 5,2 persen. Menurut dia potensi untuk mencapai pertumbuhan ekonomi di atas 5,2 persen masih ada.
"Namun semestinya potensi untuk tumbuh di atas 5,2 masih terbuka apabila upaya pemerintah dalam mengelola tekanan eksternal khususnya menjaga nilai tukar, daya beli masyarakat, dan penguatan daya saing industri domestik berjalan," tandasnya.
Baca juga:
Sri Mulyani prediksi ekonomi 2018 hanya tumbuh 5,21 persen
Menteri Sri Mulyani sebut pertumbuhan 2019 berpeluang hanya 5,15 persen
Komisi XI setujui asumsi makro APBN 2019, salah satunya nilai tukar Rp 14.400 per USD
BI beberkan kunci agar pertumbuhan ekonomi Indonesia capai 6 persen
Ekonomi lesu, Sandiaga Uno ajak masyarakat berhemat
Dongkrak pertumbuhan ekonomi, ESDM bakal perpanjang rantai hilirisasi gas bumi