Semen Indonesia suntik dana pendidikan ke 940 siswa senilai Rp 1,6 M
Dukungan tersebut adalah dengan menanggung biaya operasional siswa kejar Paket A, B, C, modul pembelajaran, honor tutor, dan pengelola lembaga kesetaraan di wilayah tersebut.
PT Semen Indonesia (Persero) Tbk mengungkapkan komitmennya dalam mendukung pengembangan pendidikan kesetaraan di kawasan pabrik wilayah Kabupaten Rembang, Jawa Tengah. Bentuk dukungan yang selama ini dilakukan telah mencapai Rp 1,64 miliar.
Kepala Departemen CSR Semen Indonesia Wahjudi Heru mengatakan dukungan tersebut adalah dengan menanggung biaya operasional siswa kejar Paket A, B, C, modul pembelajaran, honor tutor, dan pengelola lembaga kesetaraan di wilayah tersebut.
"Saat ini terdapat lima pusat kegiatan belajar masyarakat (PKBM) dan satu lembaga kursus dan pelatihan yang kebutuhan operasionalnya ditanggung oleh PT Semen Indonesia," kata Heru dalam keterangan yang diterima merdeka.com di Jakarta, Jumat (16/9).
Lima PKBM yang telah menjalin kerja sama dengan PT Semen Indonesia itu masing-masing adalah Kecamatan Bulu (PKBM Ar-Rohman, PKBM Kadiwono), Kecamatan Gunem (PKBM Ajigeneng), Kecamatan Sale (PKBM Ngudikaweruh), dan PKBM Bina Remaja Kecamatan Pamotan.
"Sedangkan satu LKP yang juga sudah menjalin kerja sama dengan PT Semen Indonesia adalah Siap Mandiri Desa Suntri Kecamatan Gunem," tegasnya.
Sementara itu, Kasi Pendidikan Kesetaraan Dinas Pendidikan Kabupaten Rembang Agus Sugiyanto menyatakan terdapat 940 warga belajar yang mendapatkan bimbingan pendidikan kesetaraan dari lima PKBM dan satu LKP tersebut. Di luar angka itu, masih cukup banyak warga di Kecamatan Gunem yang belum mendapatkan pendidikan kesetaraan.
Berdasarkan data dari sejumlah pengelola PKBM dan LKP, jumlah warga yang belum menikmati pendidikan kesetaraan diperkirakan masih akan terus ada hingga lima tahun ke depan.
"Peran pihak ketiga, termasuk dari PT Semen Indonesia dalam pengembangan pendidikan kesetaraan memang luar biasa. Mereka membantu saudara kita di wilayah ring satu dan II pabrik semen yang dulu tidak menikmati pendidikan formal, bisa mengikuti pendidikan kesetaraan," jelas Agus.
Menurut Agus, jika hanya mengandalkan bantuan dari pemerintah, mustahil penuntasan pendidikan kesetaraan bagi warga putus sekolah bisa selesai. Sebab, kuota yang diberikan oleh pemerintah untuk pendidikan kesetaraan masih sangat minim.
"Pendidikan kesetaraan ini penting, maka dari itu harus didukung semua pihak. Di pendidikan ini, kami mengajarkan berbagai kemampuan di bidang kognitif dan nonkognitif bagi warga belajar. Keterampilan dan kewirausaan yang kami ajarkan semacam pembuatan kue dan kerajinan tangan," pungkasnya.
Baca juga:
Komisi VI minta KPK buka direksi BUMN yang diduga terima gratifikasi
Istana minta KPK usut Direktur BUMN terima gratifikasi di Singapura
Hingga Agustus 2016, perolehan kontrak baru Adhi Karya Rp 9,2 T
Semen Indonesia sebar Rp 3 juta ke pedagang sayur di Rembang
KPK sebut info gratifikasi Direktur BUMN bukan dari Kejagung
PTPP dan BTN bakal bangun 100.000 hunian bagi para pekerja industri
Soal akuisisi PGE, PLN dinilai tak bisa kelola pembangkit panas bumi