SBY: Tak ada negara yang jomblo, atasi masalah sendirian
"Hubungan luar negeri harus tetap baik di era globalisasi, interconnected."
Mantan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menilai krisis ekonomi terparah dialami Indonesia pada 1998. Itu menjadi pengalaman berharga buat pemerintah menghadapi sejumlah krisis yang bermunculan kemudian.
"Pengalaman berharga krisis nasional terjadi pada 1998 lantaran faktor eksternal dan internal," kata presiden keenam akrab disebut SBY tersebut saat berpidato terkait visi perekonomian Indonesia mendatang di Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Jakarta, Kamis (3/3).
Dalam dua periode kepemimpinannya, Indonesia pernah terkena dampak krisis keuangan global yang dipicu oleh persoalan kredit perumahan di Amerika Serikat pada 2008. Akibatnya, menurut SBY, pertumbuhan ekonomi Indonesia pernah menyentuh titik terparah, berada di level 4,5 persen.
"Faktanya krisis 2008-2009 kami mampu kurangi dampaknya."
Dia mengelaborasi bagaimana Indonesia bisa selamat dari krisis. Secara umum, menurutnya, krisis harus diselesaikan secara bersama dengan semua negara.
"Hubungan luar negeri harus tetap baik di era globalisasi, interconnected. Tidak ada negara yang jomblo, atasi masalah secara sendiri," katanya. Penting untuk memastikan yang kami lakukan sama dengan yang dilakukan dunia."
setelah itu, barulah pemerintah menjalankan strategi mengatasi krisis sesuai dengan karakteristik perekonomiannya. Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang bertumpu pada konsumsi publik membuat pemerintah menjalankan strategi menjaga daya beli masyarakat.
"Keep buying strategy waktu itu tepat. Meskipun ekonomi lesu, pastikan masyarakat masih mampu beli barang-barang yang dibutuhkan. Selama masih ada demand maka sektor riil nggak akan bangkrut. Kalau perusahaan nggak bangkrut, nggak ada PHK," imbuh SBY.
"Kemudian jaga belanja pemerintah, jadi ada stimulasi. Lalu ringankan beban perusahaan, khususnya yang berpotensi melakukan PHK besar-besaran."
Baca juga:
SBY beberkan persamaan jadi pemimpin bisnis, politik & militer
SBY pantau kinerja Jokowi lewat suara rakyat di media sosial
Rupiah terus menguat ke level Rp 13.227 per USD
Dalam perjanjian FTA, syarat dari Uni Eropa dinilai memberatkan
Kejar target penerimaan, Dirjen Pajak diminta segera konsolidasi
SBY minta Jokowi-JK dongkrak pertumbuhan ekonomi 6 persen