Rupiah merosot, bos BKPM sebut saat yang tepat untuk investasi
Pelemahan Rupiah tidak pengaruhi minat investasi.
Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Franky Sibarani menyebut pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika (USD) tidak menyurutkan minat investasi di Tanah Air. Saat ini justru merupakan momentum yang baik bagi investor dalam negeri untuk merealisasikan rencana investasinya.
Dia menyarankan agar investasi yang dilakukan masyarakat sebaiknya ditujukan pada industri-industri yang menyasar pasar ekspor seperti baja dan semen. Setidaknya tercatat realisasi investasi industri baja bahkan tumbuh hingga mencapai 100 persen.
"Saya hanya menunjukkan bahwa pelemahan Rupiah itu tidak otomatis mengganggu investasi. Semester I kita naik 16,6 persen. Kemudian izin prinsip naik 40 persen. Khusus industri baja itu naiknya 100 persen realisasinya," ujarnya di Kemenko, Jakarta, Selasa (25/8).
Menurut Franky, pihaknya baru saja mengunjungi sekitar 54 proyek di beberapa tempat di Indonesia. Di mana proyek tersebut berorientasi ekspor. Di tengah pelemahan Rupiah ini industri-industri tersebut tetap mampu mendulang pendapatan yang tidak sedikit.
"Kalau kita berorientasi ekspor, di sini momentumnya ada. Karena dari 54 project yang kita datangi, BKPM itu ternyata bisa menghasilkan USD 3,4 miliar per tahun ekspornya. Itu macam-macam sektor bisnisnya. Ada garment, karet, pengolahan ikan, komponen, produk nikel dan lain-lain," jelas dia.
Baca juga:
BKPM komitmen jaga pertumbuhan investasi industri tekstil
Pemerintah minta kandungan lokal di pembangkit listrik diperhatikan
Pemerintah dan DPR buka peluang ubah asumsi Rupiah
Imbas Rupiah merosot, penjualan barang elektronik jadi lesu
Menko Darmin sebut banyak orang tak paham kondisi ekonomi global
Menkeu: Saya harus bilang Indonesia krisis terus bubar, begitu?