Rupiah Diprediksi Menguat Hari Ini ke Level Rp17.728 per USD, Ini Faktor Penopangnya
Proyeksi tersebut muncul setelah tekanan terhadap dolar AS mulai mereda akibat meningkatnya optimisme pelaku pasar terhadap stabilitas geopolitik global.
Nilai tukar rupiah diproyeksikan masih memiliki ruang penguatan pada perdagangan Rabu (17/6) seiring membaiknya sentimen pasar global setelah Amerika Serikat dan Iran mencapai kesepakatan awal untuk mengakhiri konflik yang selama ini menjadi salah satu sumber ketidakpastian ekonomi dunia.
Pengamat komoditas dan mata uang, Ibrahim Assuaibi mengatakan, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif namun berpotensi ditutup menguat pada rentang Rp17.690 hingga Rp17.728 per dolar AS. Proyeksi tersebut muncul setelah tekanan terhadap dolar AS mulai mereda akibat meningkatnya optimisme pelaku pasar terhadap stabilitas geopolitik global.
"Untuk perdagangan Rabu (17/6) mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup menguat direntang Rp17.690- Rp17.728," ujar Ibrahim kepada media, Rabu (17/6).
Adapun sebelumnya pada perdagangan Selasa (16/6), rupiah ditutup melemah 19 poin ke level Rp17.725 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp17.708 per dolar AS. Sepanjang perdagangan, mata uang rupiah sempat menguat sekitar 5 poin sebelum akhirnya berbalik tertekan menjelang penutupan pasar.
Menurut Ibrahim, faktor utama yang mendukung prospek penguatan rupiah adalah pengumuman Washington dan Teheran terkait kerangka kerja perdamaian yang akan mengakhiri konflik kedua negara serta membuka kembali jalur pelayaran di Selat Hormuz.
Turunkan Risiko Gangguan Pasokan Energi
Kesepakatan awal tersebut dinilai mampu menurunkan risiko gangguan pasokan energi global yang selama ini menjadi kekhawatiran investor. Rencana penandatanganan resmi pada akhir pekan ini juga memicu pergeseran dana ke aset berisiko dan mengurangi permintaan terhadap dolar AS sebagai aset safe haven.
Sentimen positif semakin kuat setelah harga minyak mentah Brent anjlok ke level terendah dalam tiga bulan terakhir. Penurunan harga energi dipandang dapat mengurangi tekanan inflasi global dan memberikan ruang yang lebih besar bagi pemulihan ekonomi di berbagai negara.
Di sisi lain, pasar saham global bergerak menguat karena investor menyambut baik prospek biaya energi yang lebih rendah. Meski demikian, pasar masih menunggu kepastian mengenai implementasi perjanjian tersebut karena kedua negara menyebutkan bahwa gencatan senjata permanen masih harus melalui proses negosiasi lanjutan.
"Minyak mentah Brent jatuh ke level terendah tiga bulan pada hari Senin, sementara ekuitas global menguat karena ekspektasi bahwa biaya energi yang lebih rendah dapat mengurangi tekanan inflasi," ujarnya.
Fokus Pasar Beralih ke Kebijakan Bank Sentral
Selain perkembangan geopolitik, pergerakan rupiah juga akan dipengaruhi oleh keputusan sejumlah bank sentral utama dunia yang dijadwalkan berlangsung pekan ini.
Bank Sentral Jepang (BOJ) telah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin menjadi 1,0%, level tertinggi dalam 31 tahun. Kebijakan tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya normalisasi moneter dan pengendalian inflasi di Jepang.
Sementara itu, Bank Cadangan Australia memutuskan mempertahankan suku bunga di level 4,35% setelah sebelumnya melakukan tiga kali kenaikan berturut-turut. Keputusan tersebut menunjukkan sikap hati-hati otoritas moneter terhadap perkembangan ekonomi global.
"Para pedagang kini menunggu pengumuman kebijakan dari Federal Reserve AS dan Bank of England akhir pekan ini. Pasar akan mengamati dengan cermat komentar dari Ketua Fed Kevin Warsh untuk mendapatkan petunjuk tentang arah suku bunga AS di masa mendatang," pungkasnya.