Rencana IPO Subholding Pertamina Dinilai Bukan Privatisasi BUMN
Ekonom The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Sunarsip menyebutkan rencana initial public offering (IPO) subholding PT Pertamina (Persero) bukanlah bentuk privatisasi BUMN, sebab perusahaan yang masuk lantai bursa adalah anak usaha dan bukan saham BUMN Pertamina.
Ekonom The Indonesia Economic Intelligence (IEI) Sunarsip menyebutkan rencana initial public offering (IPO) subholding PT Pertamina (Persero) bukanlah bentuk privatisasi BUMN, sebab perusahaan yang masuk lantai bursa adalah anak usaha dan bukan saham BUMN Pertamina.
"Tidak bisa disebut sebagai privatisasi BUMN dan tidak ada yang perlu dikhawatirkan," ujar Sunarsip seperti ditulis Antara, Jakarta, Sabtu (15/8).
Menurut dia, secara konseptual yang disebut privatisasi adalah berkurangnya saham pemerintah di induk perusahaan, sedangkan dalam rencana IPO anak usaha atau subolding Pertamina ini, saham pemerintah di BUMN tersebut sama sekali tidak berkurang.
Rencana IPO subholding Pertamina, lanjutnya, sama seperti yang dilakukan beberapa BUMN di bidang konstruksi, ketika melepas saham anak perusahaan mereka di bursa saham.
Dalam hal ini, saham pemerintah di BUMN tersebut juga sama sekali tidak berkurang.
Oleh karena itu, dia menegaskan tidak ada yang perlu dikhawatirkan, karena laporan keuangan anak perusahaan yang masuk lantai bursa tersebut, nantinya tetap akan dikonsolidasikan 100 persen ke dalam laporan keuangan Pertamina.
Termasuk, di dalamnya, adalah laporan kinerja, besarnya aset, utang, ekuitas, pendapatan, belanja, dan laba subholding tersebut.
"Dengan demikian, Pertamina masih memegang kendali terhadap subholding yang direncanakan masuk bursa saham tadi. Apalagi, berdasarkan informasi, saham anak perusahaan yang akan dilepas ke bursa sangat kecil, sekitar 20-30 persen saja," katanya.
Di sisi lain Sunarsip mengatakan, rencana IPO anak usaha tersebut, merupakan aksi korporasi biasa terkait upaya fund raising Pertamina. Rencana IPO subholding mengemuka, karena Pertamina harus banyak melakukan investasi, sedangkan di sisi lain ekuitas BUMN tersebut terbatas.
"Ujung-ujungnya, kalau revenue besar, maka dividen juga besar. Dan ini akan memperbesar posisi dividen yang diberikan Pertamina kepada Pemerintah. Dengan catatan, uang hasil kegiatan IPO memang menghasilkan investasi yang profitable," jelas Sunarsip.
Baca juga:
Pertamina EP Targetkan Pemulihan CPP Gundih Rampung November 2020
75 Tahun Indonesia Merdeka, Pertamina Perkokoh Posisi Sebagai Perusahaan Energi Dunia
Kinerja 2019, Pertamina Tetap Sejajar dengan Perusahaan Kelas Dunia
Permudah Akses Masyarakat, Pertamina Siapkan 4.308 Pertashop Hingga Akhir Tahun
Pertamina Bakal Tambah 20.000 SPBU Secara Bertahap
Pertamina Retail Target Buka 30.000 Bright Store di 2025
Tingkatkan Pelayanan, Pertamina Luncurkan Layanan Terbaru Bright Store