Pupuk Kaltim Dorong Ekonomi Sirkular, Fokus Pada Sektor Pertanian dan Koperasi
Sistem ini memungkinkan pemanfaatan seluruh limbah dan hasil produksi dari satu kegiatan sebagai bahan baku untuk kegiatan lainnya.
PT Pupuk Kalimantan Timur (Pupuk Kaltim) berkomitmen untuk mendorong penerapan ekonomi sirkular di daerah pedesaan. Hal ini dilakukan melalui program PKT BISA yang mengintegrasikan pengembangan potensi lokal secara optimal. Program ini mencakup berbagai sektor, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, pengolahan kompos, hingga usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) serta koperasi, dalam satu sistem yang saling mendukung dengan prinsip zero waste.
Sistem ini memungkinkan pemanfaatan seluruh limbah dan hasil produksi dari satu kegiatan sebagai bahan baku untuk kegiatan lainnya. Contohnya, limbah organik dari pertanian dapat diolah menjadi kompos yang meningkatkan kesuburan tanah. Selain itu, kotoran ternak dari peternakan dimanfaatkan sebagai bahan dasar pupuk organik yang kembali digunakan untuk tanaman.
"Begitu pula hasil perikanan dan sektor UMKM diintegrasikan dalam rantai nilai untuk menciptakan siklus ekonomi lokal yang efisien, berkelanjutan dan ramah lingkungan," ungkap Direktur Manajemen Risiko Pupuk Kaltim, Teguh Ismartono, pada Minggu (19/10)
Lebih jauh, program PKT BISA melibatkan 175 anggota dan telah menunjukkan dampak positif dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di Dusun Babadan. Dari sektor pertanian, peningkatan produktivitas lahan terlihat berkat penggunaan pupuk kompos yang diolah, yang sekaligus menekan biaya produksi dan menjaga kualitas tanah.
Di sisi lain, masyarakat di sektor peternakan dan perikanan juga berhasil mengelola pakan secara mandiri dengan memanfaatkan limbah pertanian dan kompos organik. Hasilnya, rantai produksi menjadi lebih efisien dan memberikan nilai tambah ekonomi yang signifikan bagi semua anggota kelompok.
Keberadaan koperasi dan UMKM yang merupakan bagian penting dari PKT BISA juga berperan dalam meningkatkan kapasitas ekonomi lokal. Produk olahan seperti kompos, hasil pertanian organik, dan produk turunan dari peternakan kini tidak hanya dikonsumsi di tingkat lokal, tetapi juga sudah dipasarkan ke luar Magetan.
Dengan menerapkan sistem usaha kolektif dan dukungan manajemen koperasi, kelompok ini berhasil menciptakan rantai ekonomi baru yang meningkatkan kemandirian finansial masyarakat.
"Pupuk Kaltim melihat potensi di Dusun Babadan karena masyarakatnya memiliki semangat gotong royong dan sumber daya alam yang mendukung. Kami hanya berperan sebagai katalis, memberikan pendampingan serta dukungan teknis agar masyarakat bisa mengoptimalkan potensi tersebut secara mandiri," jelas Teguh.
Pemberdayaan Masyarakat
Teguh memastikan bahwa Pupuk Kaltim akan terus mengoptimalkan program PKT BISA dengan memberikan pendampingan berkelanjutan untuk memperkuat kapasitas masyarakat yang mengelola program tersebut. Ini merupakan bagian dari strategi Creating Shared Value (CSV) yang selama ini menjadi landasan dalam pelaksanaan program tanggung jawab sosial Pupuk Kaltim.
Setiap inisiatif sosial yang dilakukan tidak hanya ditujukan untuk memberikan manfaat, tetapi juga untuk mendukung keberlanjutan dengan menciptakan nilai bersama sesuai dengan prinsip Environment, Social, dan Governance (ESG).
Dengan pendekatan yang berbasis masyarakat dan fokus pada keberlanjutan, Pupuk Kaltim berkomitmen untuk terus berperan sebagai agen perubahan dalam menciptakan desa yang mandiri, inovatif, dan sejahtera di Indonesia.
Dengan upaya tersebut, Pupuk Kaltim berhasil meraih penghargaan kategori Gold CSR dan Pembangunan Desa Berkelanjutan (CSR PDB) Award 2025.
"Penghargaan ini pun menjadi motivasi bagi Pupuk Kaltim untuk memperluas model pemberdayaan masyarakat berbasis ekonomi sirkuler, sehingga mampu memberikan manfaat lebih luas. Terlebih PKT BISA merupakan bentuk nyata social investment yang direalisasikan Pupuk Kaltim dalam membangun kemandirian dan produktivitas masyarakat."
Penghargaan ini diberikan oleh Indonesian Social Sustainability Forum (ISSF) bekerja sama dengan Kementerian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT). Keberhasilan ini menunjukkan komitmen Pupuk Kaltim dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat dan mendukung pembangunan yang berkelanjutan di seluruh Indonesia.
Desa Perlu Dukungan Pihak Korporasi
Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto memberikan apresiasi kepada Pupuk Kaltim dan perusahaan lainnya yang berhasil meraih penghargaan CSR PDB Award 2025. Penghargaan ini diberikan karena mereka dianggap memiliki komitmen dan perhatian yang tinggi terhadap pembangunan desa di Indonesia.
Yandri menekankan bahwa masih banyak desa di Indonesia yang memerlukan dukungan dari korporasi agar dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Saat ini, lebih dari 10.000 desa tertinggal dan sangat tertinggal belum menikmati akses terhadap listrik, fasilitas pendidikan yang memadai, serta sumber air bersih.
Oleh karena itu, Yandri mengajak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan sektor swasta untuk terus berkolaborasi dalam mengatasi masalah besar ini, mengingat desa memiliki peran yang krusial dalam pembangunan nasional.
Dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, dinyatakan bahwa membangun dari desa dan dari bawah adalah langkah penting untuk pemerataan ekonomi dan pengentasan kemiskinan.
"Untuk itu kami mengajak semua pihak, baik BUMN maupun swasta, untuk terus berlomba menggeser air mata kemiskinan menjadi kebahagiaan. Semoga dengan penghargaan ini, kita akan semakin semangat dan termotivasi untuk secara bersama membangun Indonesia dari desa," tutur Yandri.