Punya perairan luas, Indonesia berpotensi kembangkan karbon biru
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman terus mendorong pemanfaatan potensi sumber daya pesisir sebagai karbon biru untuk memberikan dampak signifikan bagi pengendalian perubahan iklim. Sebagai negara dengan luas perairan yang besar, Indonesia punya potensi untuk mengembangkan karbon biru.
Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman terus mendorong pemanfaatan potensi sumber daya pesisir sebagai karbon biru untuk memberikan dampak signifikan bagi pengendalian perubahan iklim. Sebagai negara dengan luas perairan yang besar, Indonesia punya potensi untuk mengembangkan karbon biru, terutama di tiga ekosistem, yakni Mangrove, Padang Lamun, dan Kawasan Payau.
"Indonesia memiliki potensi untuk memberi kontribusi mengurangi beban iklim. Luas kawasan mangrove kita 3,1 juta hektar atau 23 persen dari total mangrove dunia, Padang Lamun 3 juta hektar," ungkap Deputi Bidang Bidang SDM, Iptek, dan Budaya Kemenko Kemaritiman, Safri Burhanuddin dalam pembukaan World Blue Carbon Conference 2017, di Jakarta Convention Center, Senayan, Jakarta Pusat, Kamis (7/9).
Untuk itu, Safri menegaskan pemanfaatan ekosistem pesisir sebagai upaya mengurangi emisi karbon harus digalakkan sambil memperkuat kerja sama antara lembaga terkait. Sebab, lanjutnya, terkelolanya ekosistem pesisir secara baik dan berkelanjutan tidak hanya memberi dampak pada penurunan emisi gas rumah kaca, tapi juga dapat memberi dampak kepada pertumbuhan ekonomi masyarakat, khususnya masyarakat pesisir.
"Perlu dilakukan pengelolaan lebih lanjut sehingga tidak hanya mengendalikan emisi gas rumah kaca tapi juga dapat memberikan manfaat langsung kepada masyarakat, kepada nelayan karena lestarinya lingkungan sumber daya ikan," tandasnya.
Untuk diketahui, karbon biru merujuk pada kemampuan ekosistem laut dan pesisir untuk menjaga keseimbangan penyerapan karbon dan potensi pengurangan emisi gas rumah kaca.
Dalam konsep karbon biru, ekosistem laut dan pesisir yang didominasi oleh vegetasi laut seperti hutan mangrove, padang lamun, rawa payau serta rawa masin (salt marshes) memiliki peran dalam penurunan emisi karbon.
Dari penelitian Blue Carbon yang dilakukan Kementerian Kelautan dan Perikanan bersama stakeholders terkait, total ekosistem padang lamun di indonesia dapat menyimpan 16,11 juta ton karbon per tahun. Sementara potensi penyerapan karbon oleh ekosistem mangrove adalah 122,22 juta ton per tahun.
Baca juga:
DPR sebut paket kebijakan ekonomi ala Jokowi tak mampu dongkrak konsumsi masyarakat
Pemerintah terbitkan regulasi kelola ekosistem mangrove
2030, pemerintah targetkan emisi gas rumah kaca sebesar 29 persen
Pemerintah dinilai terlalu pesimistis targetkan nilai tukar 2018 Rp 13.500
Akhir September, lima ruas tol baru beroperasi
Ini penyebab utama lambatnya pembangunan rumah murah untuk masyarakat RI