Premium tak naik saat harga minyak dunia tinggi, ini solusi Pertamina
Direktur Keuangan Pertamina, Arif Budiman mengatakan, formulasi harga BBM setelah bulan Maret berada di tangan pemerintah. Akan tetapi Pertamina harus melakukan efisiensi salah satunya dengan kembali menekan opex jika harga BBM kembali tak dinaikkan oleh pemerintah.
Pemerintah telah memutuskan untuk tidak menaikkan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Premium dan Solar serta tarif listrik dalam periode 1 Januari 2018 sampai 31 Maret 2018. Ini bertujuan untuk menjaga daya beli masyarakat.
Keputusan ini tentu berpengaruh terhadap pendapatan Pertamina, di mana perseroan harus menekan biaya operasional (operating expenditure/opex) untuk menanggung selisih harga BBM dengan harga minyak dunia yang terus merangkak naik.
Direktur Keuangan Pertamina, Arif Budiman mengatakan, formulasi harga BBM setelah bulan Maret berada di tangan pemerintah. Akan tetapi Pertamina harus melakukan efisiensi salah satunya dengan kembali menekan opex jika harga BBM kembali tak dinaikkan oleh pemerintah.
"Kalau pun enggak dinaikin, ya kita tekan lagi di opex, ya kita lihat lagi nanti di mana. Kalau sejauh ini kan pemerintah masih mereview formulasi harga. Tapi kalau pun enggak naik ya kita cari jalannya," ujar Arif di Gedung DPR RI, Jakarta, Senin (29/1).
Adapun karena kenaikan harga minyak mentah Indonesia atau Indonesia Crude Price (ICP) Pertamina telah menekan opex perseroan hingga 26 persen serta laba perseroan turun 23,5 persen dari tahun 2016 yang mencapai USD 3,15 miliar.
Dia menjelaskan penekanan opex untuk mencegah defisit di usaha hilir Pertamina. Arif menyebutkan saat ini produksi minyak Pertamina 343 ribu barel per hari sementara konsumsi setara 1,5 juta hingga 1,6 juta barel per hari.
Sehingga hal tersebut membuat Pertamina mengimpor minyak untuk mencukupi kebutuhan BBM dalam negeri.
"Jadi makanya kan enggak seimbang, kita kan memang banyak di hilir dari pada di hulu. Hampir 4 kalinya secara balance-nya. Jadi kalau misalkan harga naik (minyak dunia), secara keseluruhan, ya pasti over all nya pasti ketekan," ujar dia.
Tapi apabila harga minyak dunia mengalami penurunan maka akan berdampak pada perbaikan pendapatan perseroan.
"Makanya waktu harga rendah itu kan labanya agak naik ya, karena kita memang sebetulnya secara korporasi memang lebih hilir dari pada hulu," tandasnya.
Baca juga:
Harga Pertalite naik di awal tahun 2018
DPR restui putusan pemerintah tak naikkan harga BBM hingga Maret 2018, ini syaratnya
Pengamat sebut harga Premium saat ini seharusnya Rp 8.925 per liter
2018, AKR Corporindo bakal buka 17 SPBU di Pulau Jawa
Perjalanan panjang wujudkan harga BBM merata di seluruh Indonesia