PLN Genjot Percepatan Pasokan Batu Bara, Pastikan Listrik Jawa Aman
PT PLN (Persero) mempercepat pengadaan pasokan batu bara, khususnya medium rank coal, untuk memenuhi kebutuhan pembangkit listrik di Jawa. Langkah ini dilakukan untuk memastikan ketersediaan energi dan mencegah pemadaman.
PT PLN (Persero) mengambil langkah cepat dalam pengadaan pasokan batu bara, khususnya jenis medium rank coal, guna memenuhi kebutuhan operasional pembangkit listrik. Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo, menegaskan upaya ini sebagai bagian dari komitmen untuk menjaga keandalan pasokan listrik nasional. Percepatan ini menjadi krusial untuk memastikan seluruh pembangkit listrik dapat beroperasi optimal tanpa kendala pasokan.
Darmawan Prasodjo menyampaikan, percepatan ini juga mencakup penandatanganan kontrak dengan para pemasok batu bara yang telah mendapatkan penugasan dari pemerintah. Koordinasi intensif dan berkelanjutan dilakukan bersama Direktur Jenderal Mineral dan Batubara (Dirjen Minerba) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (KESDM), Tri Winarno.
Melalui sinergi ini, PLN berharap proses penandatanganan kontrak dapat berjalan lancar dan pasokan batu bara segera mengalir ke pembangkit. Upaya ini juga merupakan respons cepat terhadap insiden pemadaman bergilir yang sempat terjadi di Pulau Jawa, demi kenyamanan dan kebutuhan masyarakat akan listrik yang stabil.
Strategi PLN dalam Pengadaan Batu Bara
Darmawan Prasodjo menekankan pentingnya percepatan penandatanganan kontrak dengan pemasok batu bara, terutama untuk medium rank coal. Jenis batu bara ini menjadi fokus utama karena spesifikasinya yang dibutuhkan oleh banyak pembangkit listrik PLN. Langkah strategis ini bertujuan untuk mengamankan ketersediaan bahan bakar jangka panjang.
Koordinasi yang intensif antara PLN dan Dirjen Minerba KESDM, Tri Winarno, menjadi kunci keberhasilan proses ini. Sinergi antarlembaga pemerintah ini diharapkan dapat memangkas birokrasi dan mempercepat setiap tahapan pengadaan. Dengan demikian, pasokan batu bara dapat segera tersedia di lokasi-lokasi pembangkit.
Darmawan juga menegaskan bahwa dengan alokasi medium rank coal dan arahan dari Menteri ESDM Bahlil Lahadalia, PLN akan terus melakukan perbaikan. Tujuannya adalah agar proses penyediaan tenaga listrik bagi masyarakat dapat berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan.
Distribusi Batu Bara ke Pembangkit Listrik Jawa
Saat ini, proses penyaluran medium rank coal telah mulai mengalir ke berbagai Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di seluruh Pulau Jawa. Distribusi ini mencakup PLTU milik PLN sendiri, PLTU yang dioperasikan oleh mitra PLN, serta PLTU milik Independent Power Producer (IPP).
Beberapa PLTU di Jawa bagian barat yang akan menerima pasokan ini meliputi PLTU Pelabuhan Ratu, PLTU Lontar, PLTU Labuan, PLTU Suralaya 1 sampai dengan 8, PLTU Jawa 7, PLTU Jawa 9 dan 10, serta PLTU Indramayu. Sementara itu, di Jawa bagian timur, pasokan akan disalurkan ke PLTU Paiton 1 dan 2, PLTU Paiton 9, PLTU Rembang, PLTU Pacitan, dan PLTU Tanjung Awar-awar.
Darmawan Prasodjo menyampaikan permohonan maaf atas nama PT PLN (Persero) terkait pemadaman bergilir yang sempat dialami Pulau Jawa. Ia menyatakan pemahaman atas kesulitan yang dihadapi masyarakat akibat peristiwa tersebut, menegaskan komitmen PLN untuk mencegah terulangnya kejadian serupa.
Dukungan KESDM dan Tantangan Pasokan
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa total kebutuhan batu bara untuk PLN mencapai 154 juta metrik ton per tahun. Hingga saat ini, PLN telah mengamankan kontrak untuk 134 juta ton, sehingga masih terdapat kekurangan sekitar 20 juta ton yang perlu dipenuhi.
KESDM mencermati adanya kendala khusus pada pasokan batu bara kalori menengah, terutama dengan spesifikasi sekitar 5.200 kcal per kg GAR, yang sangat dibutuhkan oleh pembangkit PLN. Untuk mengatasi tantangan ini, Menteri Bahlil telah membentuk tim khusus pengadaan batu bara kalori menengah.
Selain itu, KESDM juga membuka peluang untuk merevisi harga batu bara bagi PLN di tengah meningkatnya tekanan biaya produksi pemasok. Penyesuaian harga ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri atau domestic market obligation (DMO), yang saat ini ditetapkan sebesar 70 dolar AS per ton bagi PLN.
Sumber: AntaraNews