Pertarungan Iran-Saudi ancam harga minyak dunia
Iran akan terus memompa minyak mentah meski harga terseok-seok.
Harga minyak dunia masih bertahan rendah di bawah USD 50 per Barel. Bahkan, harga sempat merosot ke USD 34,53 barel pada Senin pagi, dan ini merupakan harga terendah sejak Februari 2009 silam.
Penurunan harga minyak dunia dipicu oleh kekhawatiran lonjakan produksi minyak Iran bulan depan. Negara ini sedang menunggu pencabutan resmi sanksi barat berlaku mulai awal 2016.
Ini adalah cobaan terbaru bagi minyak dunia yang telah anjlok 14 persen di bulan ini saja. Jika terus anjlok, minyak akan menyentuh titik terendah sejak krisis yaitu USD 32,40 pr barel pada Desember 2008 silam.
Iran mengatakan akan meningkatkan produksi sebesar 500.000 barel per hari setelah sanki barat resmi dicabut, kemungkinan awal bulan depan.
"Tidak ada kesempatan Iran untuk menunda rencana meningkatkan pengiriman meski harga minyak murah," ucap Menteri Minyak untuk perdagangan dan hubungan internasional Iran, Amir Hossein Zamaninia seperti dikutip CNN, Jakarta, Selasa (15/12).
Kembalinya Iran ke pasar minyak dunia membuat pimpinan OPEC, Arab Saudi untuk terus memompa minyak secara besar-besaran. Saudi, saingan lama Iran menyadari jika harga minyak kembali tinggi akan membuka peluang Iran untuk memulihkan perekonomiannya.
Rendahnya harga minyak dunia memicu kekhawatiran terbaru di Wall Street tentang kesehatan ekonomi global dan menggerus keuntungan perusahaan. Merosotnya harga telah menyapu bersih seperempat nilai saham di sektor energi yang masuk dalam S&P 500.
Namun, rendahnya harga minyak dunia membuat konsumen Amerika sumringah. Mereka membeli energi dengan murah yang telah turun di bawah USD 2 per galon, pertama kalinya sejak 2009.
Baca juga:
Harga minyak dunia anjlok, pemerintah seharusnya turunkan harga BBM
Harga minyak dunia anjlok nyaris ke titik terendah dalam 7 tahun
Ngototnya Saudi buat harga minyak jatuh meski ekonominya hancur
OPEC tak pangkas produksi, harga minyak dunia di bawah USD 40/barel