LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Perjalanan China, Bermula Pembuat Barang Palsu Hingga Jadi Raksasa Teknologi Dunia

Sempat dijuluki terbelakang dan tak berkembang, China kini menjelma sebagai pesaing serius Amerika Serikat dalam hal teknologi dan ekonomi. China sebagai negara produsen barang palsu pun diakui oleh pendiri sekaligus CEO Gao Fed Advisory Company, Edward Tse.

2019-07-01 07:00:00
China
Advertisement

Matthew Scott, dipindah kerja ke China sebagai insinyur Microsoft pada 2006, tak pernah terpikir akan ada kesempatan membangun bisnis startup sendiri di sana. Akan tetapi kenyataannya, Matthew masih tinggal di China hingga saat ini dan menjadi salah satu pendiri startup kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).

"China adalah lokasi terbaik untuk AI," ujar Matthew yang menjabat sebagai Chief Technology Officer Malong Technologies di Shenzhen tersebut seperti dilansir dari Channel News Asia, ditulis Senin (1/7).

Advertisement

©2019 McKinsey

Shenzhen, tempat yang dulu dikenal sebagai pembuat barang imitasi atau palsu, telah berubah menjadi lokasi teknologi yang mampu melakukan apa yang tidak bisa Silicon Valley lakukan yakni menggabungkan inovasi dan wirausaha dengan industri manufaktur.

"Semua orang menggunakan kecerdasan buatan menggunakan teknologi China saat ini. Tanpa kecerdasan buatan China, kita tidak akan semaju seperti saat ini. China tidak hanya menyerap inovasi dunia, inovasi baru juga lahir di sana," tutur Matthew.

Advertisement

Bagaimana China Menyalip Industri Teknologi Dunia?

Sempat dijuluki terbelakang dan tak berkembang, China kini menjelma sebagai pesaing serius Amerika Serikat dalam hal teknologi dan ekonomi. China sebagai negara produsen barang palsu pun diakui oleh pendiri sekaligus CEO Gao Fed Advisory Company, Edward Tse.

"China mulai belajar, berkembang, ketika kami (China) menyadari dunia berubah. Jadi langkah awal ialah melihat apa yang ada di luar negeri dan kita tiru."

China melihat terdapat peluang inovasi. "Butuh sekitar 10 tahun perubahan dari negara peniru hingga seperti sekarang ini, negara inovatif," ujar Edward.

Pada 2015, Beijing mengumumkan program Made in China 2025. Strategi untuk mengubah China sebagai pabrik perusahaan dunia menjadi negara berteknologi tinggi.

Salah satu caranya dengan menggandeng investor swasta untuk membeli perusahaan teknologi dunia, yang kebanyakan berada di Amerika Serikat. Investasi China pada startup AS meningkat dari USD 2,3 miliar di 2014 menjadi USD 10 miliar pada 2015. Karenanya China dituduh mencuri teknologi dan mengancam keamanan nasional AS.

Strategi Made in China 2025 tak hanya investasi keluar, mereka juga meningkatkan nilai tambah industri manufaktur. Berusaha membuat sendiri barang yang selama ini diimpor dan membuatnya lebih baik.

Pusat Kendaraan Listrik

Salah satu target industri dalam program Made in China 2025, China harus lebih maju dari negara lain. Shenzhen, dari semula desa nelayan, saat ini menjadi kota pertama di dunia yang 100 persen angkutan busnya menggunakan kendaraan listrik.

"Kita tidak bisa bersaing jika dengan kendaraan berbahan bakar fosil. Namun, di kendaraan energi terbarukan, peta persaingan masih luas. Jadi kita memiliki peluang memenangkan kompetisi tersebut. Lebih dari 16.000 bus listrik dan 20.000 taksi beredar di jalanan Shenzhen," ujar Kepala Eksekutif Asosiasi Penjual Mobil China, Jia Xinguang.

©2015 merdeka.com/imam buhori

Saat harga bus listrik dua kali lebih mahal, pemerintah menyediakan subsidi hingga 8 miliar Yuan per tahun. Di seluruh China saat ini terdapat 421.000 bus listrik atau 18 persen dari total armada bus di negeri panda itu. Bandingkan dengan hanya 300 bus listrik di Amerika Serikat.

"AS, Jepang, Jerman adalah pionir kendaraan listrik. China baru mulai di 2016 namun saat ini menjadi produsen terbesar, dengan produksi mencapai 1,2 juta kendaraan listrik tahun lalu," tutur Jia.

"Kita bertekad untuk bisa memproduksi komponen kendaraan listrik. China memiliki pabrik baterai dengan kapasitas produksi terbesar."

Miliki 4 'Silicon Valley'

China juga ingin menjadi pemimpin dunia dalam bidang kecerdasan buatan. Pemerintah China menggelontorkan miliaran Dolar untuk penelitian dan penerapannya.

Pada November, Baidu, perusahaan mesin pencari membuka sebuah taman di Beijing yang diklaim sebagai taman kecerdasan buatan pertama du dunia. Taman ini memiliki sejumlah kelebihan dalam penerapan data.

Sebagai contoh, mesin pengenal wajah sepanjang jalan setapak yang mampu merekam dan menganalisa data. Pengunjung di sini dapat mengetahui sudah seberapa jauh mereka berlari, berapa kecepatan rata-ratanya dan berapa kalori yang sudah mereka bakar.

Selain itu, ada juga video hologram untuk latihan tai chi. Di mana, sistem akan menangkap gerak seseorang dan membandingkannya dengan para ahli tai chi.

Ini merupakan sebagian dari penggunaan teknologi oleh China dalam kehidupan sehari-hari sebagai bentuk menciptakan pusat teknologi. Saat ini juga terdapat 4 Silicon Valley di China.

Salah satunya terdapat di Zhongguancun. Daerah dengan luas 2/3 negara Singapura ini merupakan rumah dari 9.000 perusahaan teknologi dan lebih dari 200 institusi ilmu pengetahuan.

Zhongguancun juga menjadi markas perusahaan teknologi raksasa China dan juga kantor cabang bagi perusahaan teknologi AS seperti Google, IBM, dan Microsoft. Sebanyak 80 startup lahir di sini tiap harinya.

Dukungan Kuat Namun Minim Perbedaan

Menciptakan sebuah lingkungan inovatif untuk berkembang bukan cuma menghasilkan orang yang tepat, namun juga bagaimana mempertemukannya dengan investor. Hal itulah yang membuat Wu Jianbo membangun Garage Cafe.

Tak hanya sekedar tempat ngopi, Garage Cafe juga mempertemukan angel investor dan perusahaan ventura dengan pendiri startup China. Wu menilai lingkungan startup China tidak match atau cocok dengan besarnya dukungan dan kesempatan di negeri itu.

Ekosistem teknologi China dipenuhi oleh para talenta muda, namun tidak variatif. Dibanding AS. Di mana, diperkirakan 70 persen pekerja di Silicon Valley AS berkewarganegaraan asing.

©2016 Merdeka.com

Di Zhongguancun, hanya 1 sampai 2 persen pekerja merupakan penduduk asing. Ketidakseimbangan ini menunjukkan keterbukaan China masih menjadi pekerjaan rumah untuk diselesaikan.

Presiden Centre for China and Globalisation, Wang Huiyao, mengakui populasi warga asing di China terendah di dunia. "Maka China terus meningkatkan strategi menarik para talenta asing."

Seperti diketahui, Beijing telah mengeluarkan sejumlah kebijakan untuk menarik masuk talenta asing ke China tahun lalu. Kebijakan itu seperti mempermudah pemberian visa hingga menawarkan kepemilikan properti permanen bagi para rekrutan untuk pimpinan perusahaan.

Baca juga:
Di KTT G20, Trump & Xi Jinping Sepakat Gencatan Perang Dagang dan Kembali Berunding
Geliat Pencari Jamur Obat di Pegunungan China
Beda Hasil Pembangunan China dan Jepang
Fokus Investasi, Pemerintah Tak Mau Ambil Pusing Soal Perang Dagang
Kisah Dramatis Monika, Korban 'Pengantin Pesanan' Selamat Usai Kabur dari China
India Jadi Negara Ekonomi Terbesar di Dunia 2030, Siapa Nomor 1?
Curi Peluang Perang Dagang, Indonesia Siap Pasok Sejumlah Produk ke Amerika Serikat

(mdk/bim)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.