LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Penumpang Lion Air tak bisa pindah ke 'lain hati'?

"Penumpang hari ini marah. Besok masih naik," kata pemilik Lion Air, Rusdi Kirana.

2015-02-25 11:44:21
Lion Air Delay
Advertisement

Penumpang Lion Air itu tak bisa move on. Berulangkali disakiti tapi tak bisa pindah hati ke ke maskapai lain.

Sekiranya itulah pesan yang hendak disampaikan Rusdi Kirana, pemilik Lion Air, saat berkunjung ke merdeka.com, medio tahun lalu.

"Penumpang hari ini marah. Besok masih naik," katanya. "Soalnya kalau naik maskapai lain rutenya sehari 2 kali. Sementara, kami bisa 15 kali. Jadi bila telat sekarang terus bisa naik selanjutnya."

Advertisement

Ribuan penumpang terkena dampak delay "berjamaah" Lion Air, pekan lalu, boleh saja marah tak terkira karena ditelantarkan berhari-hari.

Sudah begitu, Kementerian Perhubungan hanya menjatuhkan sanksi terkesan ala kadarnya. Berupa teguran (katanya) keras, moratorium izin rute baru, dan membekukan rute penerbangan Makassar-Jayapura.

Untuk satu ini sebabnya bukan karena delay "berjamaah", melainkan Lion Air sudah tidak menerbangi rute itu selama 21 hari. Tepuk jidat!

Advertisement

Tapi, Rusdi menganggap delay itu kasus biasa. Bukan kali ini saja Lion Air menunda terbang. Cuma Kebetulan, kemarin apes saja banyak pesawat nggak terbang berbarengan.

Ini mungkin menjadi alasan Rusdi untuk tak perlu menunjukkan batang hidungnya. Padahal sudah keluar petisi online diteken belasan ribu masyarakat meminta anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres) Jokowi itu meminta maaf secara tertulis.

[Silakan bandingkan sikap Rusdi Kirana dengan CEO AirAsia Tony Fernandes saat maskapainya mengalami kasus lebih berat].

Meski dijuluki "raja delay", tetap saja penumpang Lion Air banyak. Market share maskapai berlogo kepala singa itu masih 43 persen, mengalahkan Garuda Indonesia sekitar 24 persen.

Lion sudah terlalu percaya diri karena merasa telah menjadi tulang punggung mobilisasi masyarakat kelas menengah-bawah Indonesia yang tak punya banyak pilihan. Ini bahaya, bisa membuat maskapai itu lambat berbenah.

Kalau sudah begini, kita rasanya perlu memberikan sanksi sosial buat Lion Air. Jangan naik sebelum maskapai itu menunjukkan perbaikan operasional dan penanganan penumpang saat dalam situasi krisis.

Baca juga:
'Si raja delay' Lion Air makin terpojok
Astindo: Kami wanti-wanti klien pilih maskapai selain Lion Air
Angkasa Pura kecipratan masalah delay Lion Air
Kemenhub: Kalau Lion Air diberhentikan, nanti masyarakat naik apa?
Janji takkan lari jika terjadi delay, Citilink sindir Lion Air?
Kemenhub tunjuk tiga direktur pimpin audit maskapai Lion Air

(mdk/noe)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.