LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Pengamat pastikan tak ada mafia di balik kenaikan harga beras, ini buktinya

Ekonom Universitas Indonesia (UI), Berly Martawardaya menilai tidak ada mafia beras pada kenaikan harga yang saat ini terjadi. Karena jika mafia itu ada, kenaikan beras tidak akan tersebar luas ke seluruh daerah di Indonesia.

2018-01-18 13:24:02
Impor Beras
Advertisement

Stok beras di beberapa daerah saat ini disebut cukup langka. Akibatnya harga beras di pasaran melejit sampai tembus kisaran Rp 13.000 - Rp 14.000. Oleh sebab itu, pemerintah melakukan impor untuk menjaga ketersediaan beras.

Ekonom Universitas Indonesia (UI), Berly Martawardaya menilai tidak ada mafia beras pada kenaikan harga yang saat ini terjadi. Karena jika mafia itu ada, kenaikan beras tidak akan tersebar luas ke seluruh daerah di Indonesia.

Dia mengatakan, kenaikan beras ini tidak secara mendadak terjadi. Berdasarkan data yang dia pantau di setiap website harga beras daerah, kenaikan sudah terjadi sejak Desember 2017.

Advertisement

"Kalau mau bicara mafia tapi kok tersebar sangat luas kenaikan harga beras, semua provinsi saya cek web setiap minggu itu sampai Desember memang naik bukan karena mendadak," katanya dalam sebuah diskusi di Sekretariat Iluni Universitas Indonesia (UI), Jakarta, Kamis (18/1).

Menurutnya, jika ada mafia seharusnya kenaikan beras hanya terjadi di Jakarta. Tapi faktanya di setiap daerah juga mengalami kenaikan. Berly mencontohkan, di Kalimantan, Padang serta Riau pernah mencapai Rp 13.500 per kg.

"Jadi bukan cuma di Jakarta, kalau mau ada mafia kan di Jakarta saja mustinya," ucap Berly.

Advertisement

Apabila melihat dari data kenaikan beras di berbagai daerah, tentu sulit menyatakan bahwa ada mafia beras. Karena akan terlalu sulit baginya untuk menyimpan beras selama dua bulan ini.

Maka sulit dipercaya ketika pemerintah mengklaim jika stok berlimpah. Sebab tidak akan terjadi kenaikan kalau supplai berlebih.

"Nggak masuk akal memang supplainya yang diklaim oleh Kementerian Pertanian. Di dalam ekonomi harga dan supplai berkaitan erat. Kalau harga tinggi hampir tidak mungkin supplai nya lebih. Indikasinya sulit percaya klaim berlebih supplai 300 ton benar. Dan mafia nyimpennya juga beras nggak bisa ditaruh di kantong, harus di gudang-gudang besar," jelasnya.

Senada dengan Berly, Ketua Umum Koperasi Pasar Induk Beras Cipinang, Zulkifli Rasyid memastikan tidak ada mafia beras. Sebab menurutnya jika ada stok pedagang malah berpacu mengeluarkan beras karena impor akan masuk.

"Tidak ada. Sebab gimana orang mau bermain dengan posisi sekarang? Kalau ada stok orang malah berpacu untuk mengeluarkan karena ini impor mau masuk. Kalau impor masuk, terus panen datang, harga juga harusnya turun," tandas Zulkifli.

Baca juga:
Dipanggil DPR, ini pembelaan Mendag Enggar soal impor beras 500.000 ton
Pengusaha: Mentan sebut stok beras 1,2 juta ton itu beras raskin tak layak jual
Produksi beras Purwakarta surplus 20.000 ton
MPR minta Jokowi batalkan izin impor 500.000 ton beras
Wagub Sulut tegaskan daerahnya tak perlu impor beras

(mdk/idr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.