Pemkot Jayapura Gencarkan Pelatihan Aksesoris Adat Port Numbay untuk Kaum Ibu
Pemerintah Kota Jayapura secara aktif menyelenggarakan Pelatihan Aksesoris Adat Port Numbay bagi kaum ibu di 10 kampung adat, bertujuan melestarikan budaya dan meningkatkan ekonomi lokal.
Pemerintah Kota (Pemkot) Jayapura tengah gencar melaksanakan pelatihan pembuatan aksesoris adat Port Numbay. Kegiatan ini ditujukan khusus bagi kaum ibu yang berada di 10 kampung adat di wilayah Jayapura, Papua. Inisiatif ini merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah untuk memberdayakan masyarakat melalui peningkatan keterampilan.
Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, menegaskan bahwa pelatihan ini menjadi langkah strategis. Tujuannya adalah untuk menjaga identitas budaya masyarakat asli Port Numbay, sekaligus meningkatkan kreativitas. Pelatihan ini juga diharapkan dapat menjadi jembatan menuju kemandirian ekonomi bagi para peserta.
Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kota Jayapura, Nerlince Wamuar Rollo, turut mendukung penuh program ini. Menurutnya, kegiatan ini memberikan ruang bagi masyarakat adat untuk menampilkan hasil karya mereka. Partisipasi aktif dari 100 peserta menunjukkan antusiasme yang tinggi dari kaum ibu di kampung adat.
Peningkatan Keterampilan dan Pelestarian Budaya
Wali Kota Jayapura, Abisai Rollo, menjelaskan bahwa pelatihan pembuatan aksesoris adat merupakan upaya konkret pemerintah daerah. Inisiatif ini dirancang untuk meningkatkan kreativitas dan keterampilan kaum ibu di kampung adat. Lebih dari itu, program ini juga menjadi sarana vital dalam melestarikan warisan budaya lokal Port Numbay yang kaya dan unik.
Menurut Rollo, kegiatan semacam ini perlu terus didorong keberlanjutannya. Hal ini karena pelatihan tersebut tidak hanya menampilkan kekayaan budaya asli daerah, tetapi juga memiliki potensi ekonomi yang besar. Apabila dikembangkan secara berkelanjutan, produk-produk aksesoris adat ini dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian masyarakat.
Pelatihan ini menegaskan komitmen Pemkot Jayapura dalam menjaga identitas budaya masyarakat asli Port Numbay. Melalui pemberdayaan kaum ibu, diharapkan warisan budaya dapat diteruskan kepada generasi mendatang. Ini juga menjadi wujud nyata dukungan pemerintah terhadap pengembangan potensi lokal dan penguatan jati diri komunitas adat.
Potensi Ekonomi dan Peningkatan Pendapatan
Rollo berharap produk-produk lokal yang dihasilkan dari pelatihan ini dapat dipasarkan secara luas. Contohnya seperti ikat kepala dan hiasan rambut atau tusuk konde. Pemasaran yang lebih luas ini diharapkan dapat secara signifikan meningkatkan pendapatan ekonomi masyarakat. Ini membuka peluang baru bagi kaum ibu untuk berkontribusi pada ekonomi keluarga.
Aspek ekonomi dari pelatihan ini menjadi salah satu fokus utama. Dengan keterampilan baru, kaum ibu memiliki peluang untuk menciptakan produk bernilai jual tinggi. Ini membuka jalan bagi kemandirian ekonomi dan kesejahteraan keluarga di kampung adat. Produk-produk ini juga berpotensi menjadi daya tarik wisata budaya.
Pemerintah daerah melihat potensi besar dalam aksesoris adat sebagai komoditas ekonomi kreatif. Dukungan terhadap pengembangan dan pemasaran produk-produk ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan. Hal ini juga sejalan dengan upaya pemerintah untuk memajukan sektor Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).
Mempererat Kebersamaan dan Identitas Komunitas
Ketua TP-PKK Kota Jayapura, Nerlince Wamuar Rollo, menambahkan bahwa pelatihan ini merupakan bagian dari upaya menegaskan identitas masyarakat Port Numbay di daerahnya sendiri. Kegiatan ini memberikan ruang bagi masyarakat adat untuk menampilkan hasil karya mereka, sekaligus memperkuat rasa bangga akan warisan budaya.
Wali Kota Rollo juga mengajak masyarakat dari 10 kampung adat untuk terus menjaga kebersamaan. Selain itu, penting juga untuk mempererat hubungan kekeluargaan dalam membangun kampung dan Kota Jayapura secara bersama-sama. Semangat gotong royong dan persatuan menjadi kunci dalam memajukan daerah dan mempertahankan nilai-nilai luhur.
Pelatihan ini melibatkan total 100 peserta yang tersebar di 10 kampung adat di wilayah Jayapura. Angka ini menunjukkan partisipasi aktif masyarakat dan komitmen pemerintah dalam menjangkau berbagai komunitas. Interaksi antar peserta juga diharapkan dapat memperkuat ikatan sosial dan menciptakan jaringan kolaborasi yang produktif.
Sumber: AntaraNews