Pemerintah dukung Pertamina impor elpiji dari Iran
Selain kerja sama elpiji, Indonesia dan Iran juga melakukan tujuh kesepakatan di bidang minyak dan gas bumi.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Sudirman Said mengapresiasi kerja sama PT Pertamina (Persero) dengan National Iranian Oil Company (NIOC). Menurut dia, kerja sama ini sangat penting dalam hubungan bilateral kedua negara terutama dalam bisnis minyak dan gas bumi.
"Hari ini adalah tonggak baru dalam hubungan kerja sama migas dengan Iran. Dalam jangka pendek akan disepakati kerja sama pasokan liquified petroleum gas (LPG) dan minyak mentah dari Iran ke Indonesia. Kami juga menggali peluang kerja sama jangka panjang, seperti investasi hulu migas dan pengembangan SDM," ujar Sudirman dalam keterangan tertulis di Jakarta, Selasa (31/5).
Selain kerja sama elpiji, Indonesia dan Iran juga melakukan tujuh kesepakatan di bidang minyak dan gas bumi yaitu kerja sama hulu migas di Iran, perdagangan produk migas, proyek gas, pengolahan minyak, petrokimia, industri penunjang migas, hingga peningkatan kapasitas sumberdaya manusia (SDM) di bidang migas.
Tiga dari tujuh rencana kerja sama dikonkretkan dengan disepakatinya kontrak pembelian 80.000 ton elpiji jangka pendek untuk 2016 antara Pertamina dan NIOC. Dalam jangka panjang, Iran siap memasok hingga 500.000 ton elpiji ke Indonesia. Saat ini, kebutuhan elpiji Indonesia telah mencapai 6 juta ton per tahun. Lebih dari separuhnya diimpor dan terus meningkat setiap tahunnya seiring program konversi LPG.
Pertamina-NIOC juga bersepakat untuk melakukan pembahasan lanjutan terkait pembelian minyak mentah dan akses investasi hulu di Iran bagi Pertamina pasca-kunjungan kerja 30 Mei 2016 ini.
"Pertamina berminat pada dua wilayah kerja di Iran yang dalam waktu dekat akan dilelang. Indonesia, melalui Pertamina, diharapkan dapat memperoleh prioritas dalam berpartisipasi dalam operasi ladang migas di Iran," jelas dia.
Selain itu, dibahas juga rencana investasi Iran dan pasokan minyak mentah pada kilang swasta di Situbondo. Sesuai Perpres kilang, imbuh Menteri Sudirman, Pertamina dapat menjadi off-taker dari produk kilang swasta, tentunya setelah melalui proses due dilligence.
Sementara itu, Menteri Perminyakan Iran, Bejan N. Zanganeh mengatakan kerja sama ini merupakan kerja sama jangka pendek. Untuk itu, kata dia, kedua negara tengah merumuskan untuk kerja sama dalam jangka waktu yang panjang.
"Selama ini hubungan Indonesia-Iran amat tulus dan bersahabat. Kami tunggu kedatangan Pertamina segera ke Iran untuk bekerja sama dengan National Iranian Oil Company (NIOC).” Dimulai dengan kerja sama jangka pendek dalam bentuk jasa dan perdagangan, tambahnya, setelah itu silakan dikembangkan pada jangka menengah dan panjang," pungkas Zanganeh.
Baca juga:
Iran bakal kirim 600.000 ton gas elpiji ke Indonesia
Hingga Juli, Pertamina kejar penjualan 200.000 Bright Gas
Elpiji 3 kg langka, warga Palembang tak bisa masak
Dibatasi dan ada agen nakal, Elpiji di Purwakarta langka dan mahal
Pemerintah batal cabut subsidi elpiji Rp 1.000 per kg tahun ini
Diduga ilegal, 800 tabung gas elpiji disita polisi di Pidie Jaya
Gas elpiji 3 Kg makin langka, warga Purwakarta resah