Pelindo IV tambah rute pengapalan langsung ke Korea dan Jepang
Penambahan rute bertujuan untuk meningkatkan layanan kargo ekspor Indonesia Timur ke China, Korea dan Jepang.
Awal tahun ini, PT Pelindo IV (Persero) menambah dua pelayanan pengapalan langsung ke negara tujuan ekspor/impor (direct call) yaitu Korea dan Jepang dari semula hanya ke Xianmen (China) dan Hongkong. Penambahan layanan ini bertujuan untuk meningkatkan layanan kargo ekspor Indonesia Timur ke China, Korea dan Jepang.
"Penambahan dua negara 'direct call' sejalan dengan tingginya jumlah kargo ekspor terutama dari Indonesia Bagian Timur ke wilayah China, Korea dan Jepang," kata Direktur Utama PT Pelindo IV, Doso Agung dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (6/1).
Penambahan rute diharapkan akan mampu meningkatkan ekspor Indonesia Timur ke China, Korea dan Jepang yang merupakan negara dengan tingkat ekonomi terbesar di kawasan Asia Pasifik.
Pada saat bersamaan, Pelindo IV juga melakukan uji coba 'multiport tariff'.
"Uji coba multiport tarif hingga hari keempat ini berjalan lancar belum menemui kendala. Kalaupun ada kendala kami akan terus melakukan evaluasi untuk penyempurnaan," kata Doso.
Multiport tariff adalah tarif kepelabuhanan berdasarkan efisiensi perhitungan biaya di beberapa pelabuhan, dimaksudkan untuk mengurangi biaya logistik di masing-masing pelabuhan pengumpul di lingkungan PT Pelindo IV dengan tujuan ekspor melalui pelabuhan Makassar.
Dengan inovasi 'multiport tariff' yang diberlakukan bersamaan dengan dimulainya Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) 2016, diyakini mampu meningkatkan ekspor Indonesia Timur hingga 3 kali lipat pada tahun 2016.
Besaran 'Multiport Tariff' di berlakukan berdasarkan zona pelabuhan di KTI (terbagi 4 zona). Hal ini setara dengan pengurangan 20 persen-30 persen tarif yang berlaku sekarang. Meliputi biaya tambat, dermaga dan stevedoring, di luar (tidak termasuk) biaya buruh yang merupakan faktor di luar Pelindo IV.
Dengan berbagai inovasi tersebut, selain mewujudkan Tol Laut dan Poros Maritim Nasional juga sekaligus mengubah peta logistik nasional yang lebih berpihak bagi pertumbuhan Kawasan Timur Indonesia (KTI).
Baca juga:
Kembangkan produk hilir tebu, PTPN X terima PMN Rp 975 miliar
2016, KAI optimistis raup pendapatan Rp 20 triliun
2016, Menteri Amran target swasembada beras
KAI bakal pasang tarif untuk barang bawaan lebih dari 20 kilogram
Keselamatan penerbangan, INACA klaim maskapai RI alami kemajuan