Kembangkan produk hilir tebu, PTPN X terima PMN Rp 975 miliar
Merdeka.com - PT Perkebunan Nusantara (PTPN) X menerima suntikan modal Rp 975 miliar dari pemerintah untuk mengembangkan produk hilir tebu. Meski demikian, total alokasi dana yang dibutuhkan perusahaan plat merah ini sebenarnya mencapai Rp 1,469 triliun. Untuk mencukupi kebutuhan dana tersebut, PTPN X mendapat pinjaman pihak ketiga.
Direktur PTPN X, Subiyono mengatakan, sesuai Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 138 Tahun 2015 tentang Penambahan Penyertaan Modal Negara (PMN) Republik Indonesia ke dalam modal saham, PTPN X menerima kucuran dana senilai Rp 97,5 miliar.
Kemudian dari penyertaan modal PTPN III, yang merupakan induk seluruh perusahaan perkebunan negara, berdasarkan PP Nomor 135 Tahun 2015 tentang Penambahan PMN Republik Indonesia ke Dalam Modal Saham PTPN III (Persero), dana Rp 877,5 miliar disertakan pula ke PTPN X.
"Sehingga total PMN yang diterima PTPN X untuk mengembangkan produk hilir di tiga Perusahaan Gula (PG), yang ada di Jawa Timur, yaitu PG Gempolkrep di Mojokerto, PG Ngadirejo di Kediri dan PG Tjoekir di Jombang, adalah senila Rp 975 miliar," terang Subiyono kepada wartawan di Kantor PTPN X, Jalan Jembatan Merah, Surabaya, Rabu (6/12).
Subiyono meyakini, penambahan PMN ini bisa memperkuat kinerja industri gula dengan berbagai turunan produknya, khususnya di lingkungan PTPN X sebagai produsen gula terbesar di Indonesia.
"Kami berterima kasih pada pemerintah yang telah menyuntikkan dana PMN, sebesar Rp 975 M. Penyertaan modal ini membuktikan komitmen pemerintah untuk mewujudkan industri berbasis tebu yang terintegrasi," katanya.
Dana PMN ini akan difokuskan untuk pengembangan produk hilir tebu berupa pabrik bioetanol dan pembangkit listrik serta peningkatan kapasitas pabrik di PG Ngadiredjo, PG Tjoekir dan PG Gempolkrep. PTPN X sendiri, bakal berinvestasi Rp 1,469 triliun di ketiga PG tersebut, yang Rp 975 miliar dari investasi itu, berasal dari dana PMN, sisanya dari pinjaman pihak ketiga.
Rinciannya, dana PMN itu akan digunakan untuk pembangunan pabrik bioetanol yang diolah dari limbah cair tebu (tetes tebu) di PG Ngadiredjo sebesar Rp 404 miliar. Di PG tersebut juga bakal dirampungkan program cogeneration yang mengolah ampas tebu menjadi listrik yang nantinya dijual ke PLN dengan investasi Rp 332,5 miliar.
Di PG Tjoekir, bakal dilakukan pembangunan program cogeneration senilai Rp 83 miliar. Kemudian juga akan dilakukan peningkatan kapasitas giling dari 4.200 ton tebu per hari (TTH) menjadi 4.800 TTH dengan kebutuhan investasi Rp 150 miliar.
Sedangkan di PG Gempolkrep dilakukan pembangunan program cogeneration senilai Rp 324,5 miliar dan pengembangan produk turunan bioetanol sebesar Rp 125 miliar. Selain itu, juga dilakukan peningkatan kapasitas giling dari 6.500 TTH menjadi 7.200 TTH senilai Rp 50 miliar.
"Program tersebut akan selesai dalam tiga tahun ke depan. PTPN X akan menjadi bagian untuk memenuhi kebutuhan listrik melalui program cogeneration," ungkap pria yang juga Ketum Ikatan Ahli Gula Indonesia (Ikagi) tersebut.
Saat ini industri gula harus mulai bergeser menjadi industri berbasis tebu terintegrasi dengan melakukan diversifikasi produk. Karena mnurutnya, pabrik gula tidak harus menghasilkan produk gula semata. Berbagai produk turunan tebu seperti bioetanol dan listrik harus mulai diseriusi.
Dia menambahkan, diversifikasi produk hanya bisa dilakukan jika di pabrik gula, sebelumnya telah dilakukan efisiensi dan optimalisasi. Diversifikasi dengan membangun program cogeneration yang mengolah ampas tebu menjadi listrik hanya bisa dilakukan jika PG dapat menghasilkan ampas tebu (bagasse) dalam jumlah yang memadai.
"Ampas tebu adalah bahan bakar alami. PG bisa menghasilkan ampas jika PG itu efisien dan kinerjanya optimal. Ampasnya juga bisa digunakan untuk menggerakkan mesin, sehingga lebih hemat," lanjutnya.
Selama ini, ampas tebu memang hanya dijual murah untuk pakan ternak dan pellet untuk bahan bakar. Jika dioptimalkan untuk cogeneration, tentu nilai tambahnya jauh lebih besar.
"Kami mempunyai potensi kelebihan ampas tebu sebesar 280.000 ton per tahun yang bisa menjadi bahan bakar pembangkit. Ini harus dimulai. Kita sudah jauh ketinggalan. Di Brasil, pabrik gulanya sudah mempunyai cogeneration berkapasitas lebih dari 3.000 MW dan di India lebih dari 2.000 MW," paparnya.
Demikian pula untuk pengembangan produk bioetanol dari limbah cair tebu (tetes tebu). Sebelumnya, tetes tebu hanya dijual ke pabrik lain yang mengolahnya menjadi bioetanol dan bumbu masak.
PTPN X sudah memulai pengembangan bioetanol dengan mengoperasikan satu pabrik bioetanol di Mojokerto dalam dua tahun terakhir. Dan PTPN X ingin membangun satu lagi pabrik bioetanol di PG Ngadiredjo Kediri, karena tetes tebu dari PTPN X masih cukup melimpah.
(mdk/idr)Cobain For You Page (FYP) Yang kamu suka ada di sini,
lihat isinya