Pelaku Usaha Beberkan Keuntungan Bahan Baku Impor bagi Industri Domestik
National Chairman IFC Indonesia Fashion Chairman Ali Charisma mengungkapkan bahwa kehadiran bahan baku impor di sektor industri fesyen tak melulu berarti buruk. Kehadiran produk impor juga memiliki dampak positif bagi perkembangan industri tekstil dalam negeri.
National Chairman IFC Indonesia Fashion Chairman Ali Charisma mengungkapkan bahwa kehadiran bahan baku impor di sektor industri fesyen tak melulu berarti buruk. Kehadiran produk impor juga memiliki dampak positif bagi perkembangan industri tekstil dalam negeri.
"Dengan adanya produk luar, standarnya sudah ketahuan. Kita ini cari yang paling terkini, yang produk lokal harus lebih baik dari itu secara kualitas maupun harganya," kata dia, saat ditemui, di JCC, Jakarta, Rabu (1/5).
Dengan demikian, kehadiran produk impor dapat menjadi inspirasi bagi para pelaku industri tekstil untuk meningkatkan kualitas produknya. Dengan demikian kinerja industri tekstil dapat lebih moncer.
"Ada positif dan negatifnya. Sebenarnya kondisi tekstil Indonesia lagi agak lesu secara desain atau secara bisnis. Jadi produk impor ini bisa jadi acuan. Sekarang berkembang, tekstilnya ingin bangkit lagi," ungkapnya.
Direktur Jenderal Industri Kecil Menengah dan Aneka (IKMA) Kementerian perindustrian Gati Wibawaningsih mengatakan kehadiran bahan baku impor pada dasarnya membantu para desainer untuk mendapatkan bahan yang belum bisa diperoleh di dalam negeri.
"Desainer kan kreativitasnya tinggi. Dia ingin bikin sesuatu yang bagus. Nah untuk desain dari kain sendiri kadang di dalam negeri tidak ada. Kemudian yang jadi masalah dalam negeri kalau mau beli sedikit itu agak susah. Kalau impor itu lebih gampang," katanya.
Sedangkan Menteri Perindustrian, Airlangga Hartarto, mengatakan salah satu upaya pemerintah untuk menekan impor bahan baku dan bahan penolong yakni dengan mendorong investasi.
"Tentu kalau namanya impor untuk Industri, namanya bahan baku dan bahan penolong. Nah ke depan tentu yang kita kejar adalah ekspor kita genjot," ujar Airlangga.
"Nanti bahan bakunya kita kurangi impor. Mengurangi impor dengan investasi lagi. Makanya kita dorong subtitusi impor orientasi ekspor. Jadi itu adalah kebijakan nasional untuk mendorong industri," tandasnya.
Baca juga:
Kebutuhan Tenaga Kerja Industri Naik 8 Persen Hingga 2035
Dukung Industri 4.0, PLN Siap Pasok Tambahan Listrik Kawasan Industri
Pemerintah Genjot Kualitas SDM Kembangkan Nilai Tambah Industri Tanah Air
Dibuka Menperin Airlangga, IIMS 2019 Ditargetkan Raup Transaksi Rp 4 Triliun
Kemenperin Target Pertumbuhan Konsumsi Kaca Industri Farmasi Capai 5 Persen
Airlangga Resmikan Pengoperasian Mesin Baru Industri Kaca Farmasi