Orang Kaya Jatuh Miskin Hingga Jual Roti di Jalanan: Awalnya Saya Malu, tapi Saya Lebih Takut Kelaparan
Dalam hitungan minggu, Sirivat kehilangan seluruh investasinya di pasar saham. Bisnis propertinya ikut hancur, dan dia terjerat utang.
Di balik gemerlap kota Bangkok, ada kisah luar biasa tentang kejatuhan dan kebangkitan. Sirivat Voravetvuthikun, dulunya seorang pialang saham sukses, pernah hidup mewah sebagai miliuner. Namun semua berubah drastis pada tahun 1997, ketika krisis finansial Asia menghantam keras.
Dalam hitungan minggu, Sirivat kehilangan seluruh investasinya di pasar saham. Bisnis propertinya ikut hancur, dan dia terjerat utang lebih dari 1,2 miliar baht atau setara dengan sekitar USD 30,4 juta.
Dari hidup penuh kemewahan, dia terpaksa menjual mobil, rumah, bahkan harus mengandalkan istri dan anak-anaknya untuk bertahan hidup.
Alih-alih menyerah, Sirivat justru memutar haluan dengan cara yang tak biasa. Dia menjual sandwich atau roti lapis di pinggir jalanan Bangkok. Dengan celemek dan keranjang roti, dia menyusuri trotoar, menawarkan sandwich buatan sendiri. Di hari pertamanya, ia hanya berhasil mengumpulkan sekitar 500 baht atau USD14.
"Awalnya saya malu, tapi saya lebih takut kelaparan daripada kehilangan gengsi," ujar Sirivat dilansir dari VOA di Jakarta, Rabu (18/6).
Didukung Sang Istri
Bersama istrinya, Vilailuk, yang setia mendukung, Sirivat perlahan membangun kembali hidupnya. Kini, lebih dari 10 tahun kemudian, usahanya yang diberi nama Sirivat Sandwich telah berkembang. Dia memiliki dua kedai kopi, layanan katering sushi, dan 14 karyawan.
Merek sandwich-nya pun dikenal luas di Bangkok sebagai simbol ketekunan dan semangat pantang menyerah. Yang menarik, logo perusahaannya menampilkan simbol Baht dan lambang IMF, sebagai pengingat bahwa dari krisis terburuk, bisa lahir awal yang baru.
Sirivat masih sesekali menjual sandwich di jalan, bukan karena terpaksa, tapi karena itu bagian dari kisah hidupnya. "Saya memang pernah bangkrut," katanya.
"Tapi saya tidak pernah benar-benar kalah."