OJK: Perekonomian RI Ditopang UMKM, tapi Aset dan Ukuran Kalah Dibanding Korporasi
Menurut dia, kepemilikan aset pelaku UMKM yang lebih kecil dari perusahaan atau korporasi ini yang membuat pertumbuhan kredit dari sektor ini terbatas. Apalagi perbankan memiliki kriteria khusus untuk pemberian modal kerja.
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengakui perekonomian nasional banyak ditopang sektor UMKM. Secara entitas pun, pelaku usaha UMKM bisa mencapai 98 persen dari pelaku usaha di Indonesia.
Namun sayangnya, secara aset, pelaku usaha UMKM masih kalah dari korporasi. Sedangkan indikator pertumbuhan kredit banyak ditopang kredit korporasi ketimbang pelaku UMKM.
"Pengungkit utama pertumbuhan kita dari kredit ke sektor usaha. UMKM ini jumlahnya bisa 98 persen tapi dari sisi aset atau tiket size pembiayaan lebih kecil dibandingkan perusahaan menengah atas," kata Kepala Grup Kebijakan Sektor Jasa Keuangan Terintegrasi OJK, Enrico Hariantoro dalam Webinar Menakar Efektivitas Stimulus Ekonomi, Jakarta, Selasa (4/5).
Menurut dia, kepemilikan aset pelaku UMKM yang lebih kecil dari perusahaan atau korporasi ini yang membuat pertumbuhan kredit dari sektor ini terbatas. Apalagi perbankan memiliki kriteria khusus untuk pemberian modal kerja.
Akibatnya, peluang pembiayaan modal kerja dari perbankan lebih banyak mengalir kepada korporasi yang jumlah entitasnya tidak sebanyak pelaku UMKM.
"Perusahaan menengah hingga korporasi ini jumlah entitasnya kecil tapi tiket size untuk pembiayaan besar," kata Enrico.
Perusahaan Besar Menahan Diri
Di sisi lain, perusahaan besar menahan diri untuk mengajukan pembiayaan modal kerja. Sebab melihat situasi dan kondisi terkini masih memberikan ketidakpastian. Terganggunya siklus ekonomi ini berdampak pada pelemahan ekonomi.
"Itu yang terjadi saat pandemi,sektor produksi manufaktur turun drastis dan menyebabkan pelemahan ekonomi," kata dia.
(mdk/idr)