OJK Beberkan Alasan di Balik Tren Ramainya Anak Muda jadi Investor Pasar Modal
Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Tirta Segara menyatakan, investor di pasar modal meningkat lebih dua kali lipat di pasar modal selama pandemi Covid-19. Investor anyar tersebut didominasi oleh kalangan muda atau milenial.
Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Tirta Segara menyatakan, investor di pasar modal meningkat lebih dua kali lipat di pasar modal selama pandemi Covid-19. Investor anyar tersebut didominasi oleh kalangan muda atau milenial.
"Tadinya itu 2,6 juta investor di pasar modal pada tahun 2019. Tapi, 2021 ini sudah 6 juta (investor). Dua kali lipat lebih dan itu kebanyakan anak muda," ungkapnya dalam acara Pelatihan dan Gathering Wartawan Media Massa di Bandung, Sabtu (4/12).
Tirta menerangkan, tingginya antusias generasi milenial untuk berinvestasi di pasar modal lantaran dana untuk jalan-jalan menganggur selama pandemi berlangsung. Menyusul, penerapan kebijakan pembatasan sosial oleh pemerintah untuk mencegah lonjakan kasus Covid-19.
"Banyak yang tidak bisa spending untuk jalan-jalan sekarang dia lari ke pasar modal," terangnya.
Oleh karena itu, OJK selaku regulator berkomitmen untuk menggencarkan berbagai program edukasi untuk meningkatkan inklusi maupun literasi keuangan melalui berbagai platform media sosial. Dengan begitu, diharapkan para generasi milenial memperoleh informasi valid terkait kegiatan investasi di pasar modal secara aman.
"Nah ini perlu kita edukasi yang masif juga. Supaya tidak keliru, tidak masuk ke investasi ilegal dan sebagainya," jelas Tirta mengakhiri.
OJK Beberkan Tips Aman Investasi untuk Generasi Milenial
Maraknya investasi bodong membuat sebagian orang bingung dan ragu untuk memulai berinvestasi. Padahal, investasi tetap perlu dilakukan sebagai untuk berjaga-jaga terhadap kondisi yang mungkin akan terjadi di masa depan.
Anggota Dewan Komisioner bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Tirta Segara menyatakan, untuk generasi milenial investasi harus dijadikan essential life skill.
"Ini seperti kalau orang bisa nyetir, bisa berenang, di sekolah mungkin baru-baru ini saja masuk di kurikulum padahal ini sangat penting. Bahkan penelitian di AS menyatakan orang yang paham literasi keuangan itu lebih cepat mencapai tujuan, lebih makmur dan sejahtera," ujar Tirta dalam webinar, Kamis (13/8).
Untuk memudahkan berinvestasi, Tirta membeberkan beberapa tips. Dimulai dari mengenali kebutuhan dan kemampuan. Menurut Tirta, investasi tidak harus dilakukan dalam nilai yang besar, namun harus diselaraskan dengan tujuan investasi ke depan, apakah jangka pendek atau jangka panjang.
"Kenali produk jasa keuangan, banyak yang beli produk ini, tapi mereka tidak memahami, sebetulnya ini apa, saya tidak pernah pakai, rugi juga kalau tidak memanfaatkan fitur ini. Hal ini harus selaras dengan tujuan di awal," jelas Tirta.
Langkah selanjutnya ialah kenali manfaat dan risiko. Biasanya orang-orang hanya tertarik dengan manfaat produk jasa keuangan. Mereka tidak tahu ada hidden cost atau penalty fee kalau mereka melakukan break (berhenti) di tengah.
"Dan kenali hak dan kewajiban. Bukan cuma penyedia jasa keuangan yang punya kewajiban, tapi investor juga harus. Cek rekening, lalu ganti password secara berkala dan lainnya," kata Tirta.
Untuk mewaspadai investasi bodong, masyarakat bisa menggunakan prinsip 2L, yaitu Legal dan Logis. Legal artinya terdaftar izin badan usaha dan izin usahanya, logis artinya memberikan return yang tidak muluk-muluk dan wajar.
OJK sendiri, melalui Satgas Waspada Investasi (SWI) sudah mengamankan 797 entitas investasi ilegal dan 2.588 entitas fintech ilegal (per 3 Juli 2020).
"Untuk mengecek legalitas, Bapak Ibu dan Adik-Adik bisa menghubungi kontak OJK ke nomor 157 dan email konsumen@ojk.go.id atau waspadainvestasi@ojk.go.id," tutur Tirta.
(mdk/bim)