Naiknya harga minyak hingga suku bunga AS bikin Rupiah anjlok
Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri, Darmawan Junaidi mengatakan melemahnya rupiah disebabkan kondisi pasar global di mana harga minyak semakin meningkat hingga mencapai USD 70 per barel. Selain itu, Fed Fund Rate juga dinilai mempengaruhi pelemahan rupiah.
Nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (USD) terus mengalami pelemahan beberapa minggu ini. Hari ini, Rupiah dibuka di level Rp 13.908 atau melemah dibanding penutupan perdagangan kemarin di Rp 13.893 per USD.
Direktur Treasury & International Banking Bank Mandiri, Darmawan Junaidi mengatakan melemahnya rupiah disebabkan kondisi pasar global di mana harga minyak semakin meningkat hingga mencapai USD 70 per barel.Selain itu, Fed Fund Rate juga dinilai mempengaruhi pelemahan rupiah.
"Ada pembobotan bahwa ada kenaikan sekali lagi fed fund rate, ini sangat mempengaruhi investor. Kalau kita lihat saat ini salah satu indikatornya itu US treasury 10 tahun ini sudah mendekati 3 yaitu 2,9 dan menunjukkan ada flow. Jadi ada flow bahwa sudah banyak melepas untuk yang jangka panjang,"kata Darmawan di kantornya, Senin (23/4).
Kondisi tersebut, lanjutnya, membuat para investor asing yang ada di Indonesia mulai melepas aset-asetnya. "Ini membuat kalau di Indonesia, investor asing sudah mulai banyak yang jual, dia pegang rupiah pasti dia beli USD."
Darmawan berharap, kondisi rupiah yang terpuruk tidak akan terlalu lama. Meski demikian, Darmawan optimis kondisi Rupiah yang saat ini terus melemah tidak akan mengganggu kondisi moneter nasional.
"Jadi kalau kita melihat, kondisi moneter di Indonesia cukup baik, kondisi ekonomi juga bagus, cadev juga cukup. Rasanya sih ini akan terus terjaga."
Baca juga:
2019, ESDM targetkan alutsista gunakan campuran solar dan biodiesel
Presiden Jokowi harap pembangunan Bandara Soedirman rampung 2019
Bank Mandiri gandeng ICBC perkuat transaksi valas
Nelayan harap Dirut Pertamina baru perbanyak pasokan solar
Kemenperin gelar IFCC tingkatkan industri alas kaki nasional