Minimnya lahan di Indonesia jadi penyebab harga pangan melonjak
Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia menilai melonjaknya harga pangan disebabkan semakin sedikitnya lahan di Indonesia yang bisa digunakan untuk bertani. mengakibatkan semakin sedikitnya bahan pangan yang ditanam, dan semakin sedikit pula petani yang menjadi buruh tani karena tidak memiliki lahan sendiri.
Wakil Ketua Umum Bidang Perdagangan Kamar Dagang dan Industri (KADIN) Indonesia Benny Soetrisno menilai penerapan paket kebijakan ekonomi Indonesia belum menyentuh ke berbagai sektor, salah satunya pertanian.
Menurutnya, semakin sedikit lahan di Indonesia yang bisa digunakan untuk bertani. Hal ini lah yang menyebabkan harga pangan melonjak.
"Soal pangan, kalau kita lihat tanah dari Jakarta ke Bandung, kemudian Jakarta ke Banten, itu tanahnya lebar-lebar tapi ditumbuhi ilalang. Lebih berat lagi, itu sudah ada yang punya, dan kalau beli tanah itu sebagai lahan pertanian pasti mahal,"jelas Benny di Menara Kadin Indonesia, Jumat (23/9).
Dengan minimnya lahan di Indonesia, mengakibatkan semakin sedikitnya bahan pangan yang ditanam, dan semakin sedikit pula petani yang menjadi buruh tani karena tidak memiliki lahan sendiri.
"Banyak lahan tidak terpakai, Pemerintah fokus di sini dulu, kita punya banyak tanah, tapi sudah ada yang punya, dan dianggurkan," ujarnya.
Dengan demikian, Benny meminta agar pemerintah segera menangani hal tersebut untuk meminimalisir lonjakan harga pangan. Selain itu, dia juga meminta agar ego sektoral yang masih terlihat di beberapa kementerian untuk dihilangkan, agar kebijakan dan program yang telah dikeluarkan bisa menyentuh ke seluruh masyarakat.
"Misal Kementan, kerjasama dengan Kemenperin, untuk menyediakan alat pra dan pasca panen pertanian. Beri harga yang wajar ke petani untuk memperbaiki kualitas pangan mereka," pungkas Benny.
Baca juga:
Petani Sumsel menjerit, harga pupuk dan bibit masih mahal
Kembangkan Petani lokal, Hero gandeng UGM dan Dinas Pertanian TPH
Mentan: Kami potong dana dinas demi lahan jagung 2 juta hektar
Menyaksikan ritual adat Seren Taun ke-648 di Sukabumi
Gerombolan babi hutan rusak pertanian lereng Gunung Slamet
Ini cara unik desa di Banyumas berantas hama tikus
Mentan Amran: cari bibit bawang murah, impor tidak masalah