Menteri Sudirman minta PLN bentuk anak usaha khusus EBT
Sudirman memberi tenggat waktu untuk PLN agar bisa menyiapkan anak usahanya sebelum akhir tahun ini.
Harga minyak dunia tengah merosot hingga menembus level USD 35 per barel. Bahkan, harga minyak tersebut diprediksi masih akan berlanjut hingga tahun depan.
Hal ini bisa berimplikasi pada investasi di sektor pembangkit listrik dari energi terbarukan tak lagi menarik. Penyebabnya, selisih harga listrik dari pembangkit energi terbarukan dengan harga minyak semakin tidak ekonomis. Pemerintah juga tidak bisa memaksa PT PLN (Persero) untuk membeli listrik dari investor energi baru terbarukan (EBT) yang kontrak pembelian listriknya akan habis.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Sudirman Said mengusulkan PT PLN membentuk anak perusahaan baru yang khusus membeli listrik dari pembangkit non energi fosil. Sudirman memberi tenggat waktu untuk PLN agar bisa menyiapkan anak usahanya sebelum akhir tahun ini.
"Beberapa kasus seperti PGE (Pertamina Geoenergy) gap masih jauh dan itu tugas kami untuk fasilitasi, sebelum akhir tahun (selesai). Perlu ada satu perusahaan anak PLN khusus yang beli listrik EBT," kata Sudirman saat konferensi pers di kantor Direktorat Jenderal Ketenegalistrikan, Kementerian ESDM, Kuningan, Jakarta, Selasa (22/12).
Dengan adanya anak perusahaan, selisih harga pembelian listrik dari EBT dapat disubsidi pemerintah. Selain itu, Sudirman juga mengusulkan pembentukan anak usaha baru dari PLN sebagai win-win solution tersebut.
"Apabila terlalu jauh, kan seperti cerita harga gas. Masing-masing pihak diminta berkorban, setelah tidak ada jawaban baru pemerintah akan masuk," tutupnya.
Baca juga:
Energi terbarukan jadi jalan keluar kenaikan tarif listrik
Bos Pertamina akui Indonesia masih tertinggal dalam teknologi EBT
Target Jokowi, sampah diolah jadi energi listrik di 2025
Jokowi bakal terbitkan aturan pemanfaatan sampah jadi listrik
Feed in tarif jadi solusi jitu kembangkan panas bumi tanah air