Mengungkap Penyebab Perlambatan Ekonomi Global
Ekonom Senior Anny Ratnawati, mengatakan perlambatan ekonomi itu bukan hanya karena pandemi covid. Jauh sebelum pandemi covid, perlambatan ekonomi sudah ada tanda-tandanya, seperti perang dagang (trade war) antara Amerika Serikat (AS) dengan China beberapa waktu lalu.
Ekonom Senior Anny Ratnawati, mengatakan perlambatan ekonomi itu bukan hanya karena pandemi covid. Jauh sebelum pandemi covid, perlambatan ekonomi sudah ada tanda-tandanya, seperti perang dagang (trade war) antara Amerika Serikat (AS) dengan China beberapa waktu lalu.
Menurutnya, setelah muncul trade war Amerika Serikat-China, perlambatan ekonomi juga dipengaruhi oleh perang Rusia-Ukraina, kemudian lockdown-nya China berlanjut. Tentu, adanya hal-hal tersebut berpengaruh terhadap harga pangan dan harga energi menjadi tinggi. Adanya gangguan rantai pasok maka dampaknya pertumbuhan ekonomi dunia menjadi melambat.
"Tetapi dari semua isu ini sebetulnya yang betul-betul unik itu bahwa krisis Global atau terjadinya pergolakan di dalam ekonomi dunia itu dimulai dari supply shock atau dari sisi agregat suplainya yang digoyang," kata Anny dalam Dialog Pakar: Peran APBN dalam Rangka Pemulihan Ekonomi Global dan Antisipasi Risiko Global, Senin (12/12).
Dia menjelaskan, jika supply shock-nya terus terganggu dan bermasalah maka akan menyebabkan resesi atau dunia mengalami perlambatan ekonomi dan terjadi inflasi tinggi. "Kerepotannya dua, kita dapat resesi atau perlambatan ekonomi plus inflasi itu pasti terjadi," ujarnya.
Namun, bedanya ketika pandemi covid-19 supply shock tidak terjadi. Sebab, aktivitas atau pergerakan masyarakat dibatasi, sehingga tidak terjadi inflasi dan perlambatan pertumbuhan ekonomi juga belum terasa.
"Hanya beruntungnya ketika supply shocks terjadi di pandemi covid kita juga diam-diam di rumah, demand-nya tidak tereskalasi sehingga shock suplainya berkurang karena perusahaan juga tutup. Jadi, inflasi tidak terlalu terasa perlambatan ekonomi terasa," jelasnya.
Seiring berjalannya waktu, setelah pandemi berhasil terkendali, maka supply shock-nya mulai terasa. Karena banyak negara-negara yang membutuhkan gas, butuh komoditas, dan sebagainya. Sehingga demand-nya meningkat.
"Ketika pandemi dirilekskan kita bergerak maka supply shocknya terasa karena butuh gas, butuh komoditas dan sebagainya sehingga demandnya yang tereskalasi, karena semua negara melakukan ekspansi fiskal dan ekspansi moneter bersamaan," ujarnya.
Mantan Wakil Menteri Keuangan periode 2010-2014 ini menjelaskan, ekspansi fiskal yaitu APBN-nya disehatkan karena ingin menjaga konsumsi rakyat banyak, namun tetap dalam jalur yang bisa dipertahankan. Tapi di saat yang bersamaan Bank sentral di negara-negara maju melonggarkan suku bunganya, sehingga investasinya naik.
"Ini double sebetulnya, fiskalnya ekspansif dan moneternya ekspansif, tetapi supply side tidak bisa mengejar kecepatan dari permintaan. Maka kombinasinya biasanya adalah pertumbuhan ekonominya tidak akan besar dan tinggi, tapi melambat dan inflasinya bisa high inflation. Itu yang terjadi di Amerika," pungkasnya.
Reporter: Tira Santia
Sumber: Liputan6.com
Baca juga:
Tak Akan Terulang dalam Sejarah, Indonesia Jadi Cahaya saat Ekonomi Dunia Gelap
Pengusaha: Peluang Indonesia Masuk Jurang Resesi Ekonomi Hanya 3 Persen
Bank Indonesia: Tuhan Masih Sayang Kita, Harga Komoditas dan Ekspor Kita Naik
Menteri Bahlil: Jokowi Punya Cara Baru Hadapi Krisis, Tak Lazim di Negara Lain
Menteri Bahlil Geram, Pemerintah Selalu Disebut Menakut-Nakuti Soal Ekonomi Global
Industri Transportasi dan Logistik Online Tangguh Saat Ekonomi Bergejolak