Mengungkap alasan bos BI tahan suku bunga acuan di 4,75 persen
Agus menjelaskan, saat ini pertumbuhan ekonomi dunia masih berada di kisaran 3,3 persen. Perekonomian di Amerika Serikat (AS) dan India diperkirakan menurun, sedangkan perekonomian Eropa dan China diperkirakan membaik.
Bank Indonesia (BI) memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan BI 7-day Reverse Repo Rate (Bi 7-day RR Rate) sebesar 4,75 persen. Sementara, suku bunga Deposit Facility tetap sebesar 4,00 persen dan Lending Facility tetap sebesar 5,50 persen. Ini berlaku efektif sejak 21 Juli 2017.
Gubernur BI, Agus Martowardojo mengatakan, banyak hal yang dipertimbangkan dalam mengambil keputusan ini. Baik kondisi ekonomi dunia maupun domestik.
"Kita memang melakukan pembahasan cukup luas terhadap ekonomi global, dan juga ekonomi nasional," ungkapnya di Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta Pusat, Jumat (21/7).
Agus menjelaskan, saat ini pertumbuhan ekonomi dunia masih berada di kisaran 3,3 persen. Perekonomian di Amerika Serikat (AS) dan India diperkirakan menurun, sedangkan perekonomian Eropa dan China diperkirakan membaik.
Agus juga mewaspadai kenaikan Fed Fund Rate (suku bunga acuan Amerika Serikat) sekali di tahun ini dan tiga kali di tahun depan. Namun, yang lebih diperhatikan adalah pengurangan The Federal Reservoir (neraca bank sentral AS) yang cukup besar.
"Dan pengurangan neracanya itu yang mesti betul kita kaji akan mulai kapan, dan itu dampaknya terhadap stabilitas sistem keuangan di dunia," kata dia.
Selain itu, yang menjadi perhatian adalah kebijakan fiskal Amerika Serikat yang akan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi negara tersebut. Sebab sebelumnya, AS sudah optimis bahwa kebijakan fiskal akan cepat berlangsung dan akan mendongkrak pertumbuhan ekonominya.
"Tapi sekarang kita melihat bahwa selain ada kebijakan fiskalnya, kebijakan moneternya juga memengaruhi pertumbuhan ekonomi di AS," ujar dia.
Sementara itu, untuk kondisi ekonomi dalam negeri, Agus mengatakan, angka inflasi cukup terjaga, karena rendahnya permintaan dan harga bahan pangan yang terjaga.
Diketahui pula, pertumbuhan kredit dalam negeri masih cukup lemah dan Agus berharap keadaan ini dapat menunjukkan perkembangan positif di semester kedua.
"Kita masih melihat pertumbuhan kredit agak pelan. Diharapkan di semester II akan lebih baik, jadi ini kurang lebih kondisi dari ekonomi Indonesia, dan kita pertahankan BI 7 Days Repo Rate 4,75 persen," pungkasnya.
Baca juga:
Jawaban bos BI soal perekonomian stagnan di 3 tahun Jokowi-JK
Ekonomi stabil, BI ngotot aturan ubah Rp 1.000 ke Rp 1 disahkan
Bos BI: Ubah Rp 1.000 jadi Rp 1 butuh waktu 11 tahun
Bos BI akui tak tahu rencana Menkeu Sri Mulyani turunkan PTKP
BI: Pertumbuhan kredit stabil didukung ketahanan industri perbankan