LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Menengok Galeri Ulos Sianipar, UMKM Binaan BI di Medan

Bank Indonesia (BI) terus mendorong meningkatnya daya saing usaha mikro kecil menengah (UMKM) di seluruh Indonesia untuk memiliki daya saing dan berorientasi ekspor. Seperti UMKM Binaan BI di Medan, yakni Galeri Ulos Sianipar & UKM Bersama yang sudah memberdayakan ratusan pekerja lokal.

2019-07-20 17:30:00
Bank Indonesia
Advertisement

Bank Indonesia (BI) terus mendorong meningkatnya daya saing usaha mikro kecil menengah (UMKM) di seluruh Indonesia untuk memiliki daya saing dan berorientasi ekspor. Seperti UMKM Binaan BI di Medan, yakni Galeri Ulos Sianipar & UKM Bersama yang sudah memberdayakan ratusan pekerja lokal.

Pendiri Galeri Ulos Sianipar, Robert Maruli Tua Sianipar mengatakan, UMKM ini sudah berdiri sejak tahun 1992 dengan jumlah pekerja hanya 17 orang. Didirikannya UMKM ini mengingat banyaknya permintaan kain tenun dan ulos, namun pusat pertenunan hanya berada di daerah.

Menurutnya, pembinaan dari BI telah membuat banyak perubahan terhadap Galeri Ulos Sianipar. UMKM miliknya kini sudah memiliki ratusan pekerja, puluhan penenun lokal, dan mampu mengekspor kain tenun dan ulos ke berbagai negara.

Advertisement

"Di BI kita berdiskusi bagaimana mengembangkan suatu usaha. Banyak inovasi-inovasi yang diberikan. Dan dari sini saya baru terbuka pikiran saya. Cara BI membina UMKM berbeda. Tidak hanya sampai mahir tapi juga sampai bikin tren. BI juga mengajarkan kita untuk digital. Kita terus update dan selalu mengikuti tren," Kata Robert di Medan, Sumatera Utara, Sabtu (20/7).

©2019 Merdeka.com/Siti Nur Azzura

Advertisement

Untuk mengembangkan kualitas hasil produk, BI telah mendatangkan desainer asal Amerika untuk menambah wawasan bagi para penenun. Dengan demikian, Robert mengaku pihaknya sudah bisa memahami kebutuhan konsumen, seperti jenis kain hingga motif kain tenun dan ulos yang digemari pembeli.

"Sebenarnya BI tidak pernah membantu modal, seperti duit. Ibarat petani saya hanya diberi cangkul. Saat pelatihan kita dibantu benang dan alat-alat. Beda dengan bantuan dari pemerintah," imbuhnya.

Setelah adanya pembinaan, pihaknya bisa merekrut banyak pekerja, mulai dari pelajar, ibu rumah tangga, hingga pengangguran. Saat ini, jumlah pekerja sudah mencapai 180 orang dan bermitra dengan 50 UKM, termasuk produk makanan, tenun, dan produk turunan lain.

Selain itu, Galeri Ulos Sianipar juga telah mengekspor produknya ke Malaysia dan Singapura. Tak hanya itu, Robert juga mendapat pesanan dari Austria.

"Untuk pendapatan sebelum dibina BI rata-rata Rp 150-300 juta per bulan. Setelah dibina kita naik dari Rp 800 juta hingga akhirnya bisa mencapai minimal Rp 1,5 miliar per bulan. Di tahun 2017, kita bisa mencapai Rp 25 miliar per tahun. Di 2018 sekitar Rp 22-23 miliar per tahun. Semoga tahun ini bisa lebih dari itu," tandasnya.

Baca juga:
BI Minta Bank Mandiri Tingkatkan Sistem Keamanan
Saldo Nasabah Bank Mandiri Berubah, Ini Kata Bank Indonesia
Bambang Pramono Resmi Pimpin Bank Indonesia Solo
Ekonomi Sumut Terus Meningkat, Namun Disparitas Masih Tinggi
Bank Indonesia Ramal Investasi Tumbuh 6 Persen Hingga Akhir Tahun
Bos BI Optimis Rupiah Makin Perkasa Dipicu Penurunan Suku Bunga Acuan
Bank Indonesia Yakin Kredit Bank Tumbuh Triwulan III, Didorong Investasi & Konsumsi

(mdk/idr)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.