Mendag Zulhas Kembangkan Pasar Ekspor Afrika Hingga India: Orangnya Banyak
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengaku tak takut menghadapi ancaman resesi 2023. Sebab, pihaknya telah mempersiapkan skema baru dalam menghadapi ancaman tersebut, yakni memperkuat pasar ekspor tradisional dan memperluas pasar baru melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional.
Menteri Perdagangan Zulkifli Hasan mengaku tak takut menghadapi ancaman resesi 2023 yang diprediksi oleh beberapa pihak. Sebab, pihaknya telah mempersiapkan skema baru dalam menghadapi ancaman tersebut, yakni memperkuat pasar ekspor tradisional dan memperluas pasar baru melalui berbagai perjanjian perdagangan internasional.
"Kita mengembangkan potensi pasar non tradisional yang potensinya besar sekali seperti Afrika, dan India, orangnya banyak," kata Mendag saat ditemui di SCTV Tower, Kamis (12/1).
Adapun saat ini Indonesia juga memiliki sejumlah perjanjian perdagangan bilateral dengan negara nontradisional, diantaranya Indonesia-Chile Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA), Indonesia-Mozambique Preferential Trade Agreement (PTA), Indonesia-Pakistan PTA.
"Pertama, kita mengembangkan pasar baru Asia Selatan, Timur Tengah, Afrika, Latin Amerika, Eropa Timur. Bagaimana caranya? kita kirim delegasi bisnis dan kita permudah tool way-nya dalam bentuk perjanjian, seperti trade agreement," ujarnya.
Dengan upaya perluasan pasar yang lebih aktif dan dalam rangka pemulihan ekonomi pasca pandemi melalui pasar nontradisional, dilakukan dengan mencari dan memanfaatkan peluang di negara-negara nontradisional sebagai alternatif pasar ekspor.
Dia melihat, kinerja perdagangan Indonesia terus menuju pada tren yang positif. Hal itu terlihat dari neraca perdagangan pada periode Januari−November 2022 surplus mencapai USD 50,59 miliar. Surplus neraca perdagangan ini ditopang oleh surplus non migas sebesar USD 73,24 miliar dan defisit migas sebesar USD 22,65 miliar.
"Saya melihat tren kuartal pertama dan kedua respon kita trennya naik, kuartal ketiga memang melambat, tapi kita surplus sampai hari ini USD 50,59 miliar. Ekonomi kita tumbuh 5,72 persen tapi tren itu perlu kita pelajari, kita tahu langkah-langkah apa yang akan diambil," ujarnya.
Apalagi dengan adanya isu resesi, pertumbuhan ekonomi dunia juga diprediksi akan mengalami perlambatan. Tentu hal itu akan berpengaruh terhadap Indonesia, oleh karena itu harus diantisipasi agar pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak terganggu.
"Pertumbuhannya melambat bahkan ada beberapa yang resesi pada 2022 kemarin, Jadi pertumbuhannya turun, perekonomiannya melambat, tentu akan berpengaruh kepada kita, ini harus diantisipasi agar kita tumbuhnya meningkat tidak turun, oleh karena itu kita mengembangkan potensi pasar non tradisional yang potensinya besar sekali," pungkasnya.
Reporter: Tira Santia
Sumber: Liputan6.com
Baca juga:
Airlangga: Ekspor Indonesia Relatif Kuat
Ekspor Terganggu, Ekonomi RI Hingga Vietnam Diprediksi Turun Tahun Ini
Tak Takut Digugat ke WTO, Jokowi: Pertengahan Tahun Kita Setop Ekspor Tembaga
Buka Akses Pasar, LPEI Kolaborasi dengan Bank Ekspor-Impor Malaysia
Kepala BSN Bongkar Kunci Agar UMKM Bisa Bersaing dengan Produk Luar Negeri
Ada Aturan Baru, Begini Skema Pemeriksaan Barang dan Dokumen Impor Indonesia