Mendag Enggar beberkan alasan kalahnya warung tradisional dengan toko ritel modern
"Yang membuat pedagang tradisional, pedagang warung itu dikalahkan yaitu yang pertama berdagang di tempat umum. Kalau di dalam pasar bau, becek itulah yang terjadi," kata Mendag Enggar.
Menteri Perdagangan, Enggartiasto Lukita membeberkan beberapa hal yang membuat pasar atau pedagang tradisional kalah bersaing dengan toko ritel modern. Pertama yaitu terkait tempat. Pada umumnya pasar tradisional berada di tempat-tempat yang kurang nyaman dibandingkan dengan pasar ritel modern.
"Yang membuat pedagang tradisional, pedagang warung itu dikalahkan yaitu yang pertama berdagang di tempat umum kalau di dalam pasar bau, becek itulah yang terjadi," kata Mendag Enggar, di Bekasi, Rabu (1/11).
Faktor Yang kedua adalah terkait harga, di mana harga pasar tradisional biasanya lebih mahal dibanding ritel modern. Ini terjadi karena pedagang kecil membeli barang dengan harga lebih mahal, sebab hanya dengan jumlah sedikit. Sedangkan pasar ritel modern membelinya dalam jumlah yang besar sehingga mendapat harga lebih murah.
Ketiga adalah akses kepada dana. Pedagang besar membayar dengan waktu 1 bulan bahkan bisa sampai 3 bulan karena terkait volume pembelian. Sementara pedagang kecil harus membayar di depan. "Bahkan paling tidak dia harus bayar tunai," ujarnya.
Kata Mendag, tiga hal tersebut harus segera diselesaikan. Jika tidak, maka akan terjadi kesenjangan sosial, di mana pedagang yang besar makin besar, yang kecil akan makin tertindas.
Baca juga:
Mendag dukung kerja sama Indogrosir dengan perbankan dalam memberdayakan warung
Mendag Enggar yakin iklan LED display sangat ampuh tarik minat konsumen
Mendag Enggar: Jadi pengusaha tidak kalah terhormat demi memajukan bangsa
DPR setujui RUU pembentukan organisasi perdagangan dunia
Mendag Enggar buka-bukaan penyebab pasar tradisional kalah ramai dari ritel modern