Mencari sosok 'Pak Ari' yang disebut dalam rekaman Menteri Rini dengan Sofyan Basir
Menteri Rini sendiri enggan berkomentar panjang terkait nama Arie Seomarno dan keterlibatan Ari Soemarno dalam proyek BUMN.
Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Rini Soemarno tengah disorot. Penyebabnya tak lain beredarnya percakapan dilakukan oleh Menteri Rini bersama Direktur Utama PT PLN Sofyan Basir, terkait pembagian saham atas proyek yang digarap oleh PLN bersama Pertamina.
Dalam percakapan yang berdurasi sekitar 6 menit tersebut, keduanya juga menyebut nama Ari Soemarno atau 'Pak Ari', kakak kandung Rini. Sofyan dalam rekaman percakapan tersebut mengeluhkan jatah saham yang akan diterima oleh PLN lebih kecil dari yang seharusnya.
Menteri Rini sendiri enggan berkomentar panjang terkait nama Arie Seomarno dan keterlibatan Ari Soemarno dalam proyek BUMN.
"Cek aja sendiri," kata Rini saat mengunjungi proyek Kereta Cepat di Kilometer (Km) 3 Jalan Tol Jakarta-Cikampek, Rabu (2/5).
Sekretaris Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Imam Apriyanto Putro sendiri membenarkan adanya percakapan antara Menteri Rini Soemarno dan Sofyan Basir. Namun tidak ada penjelasan mengenai 'Pak Ari' yang disebut Sofyan dalam percakapan dengan Rini, dan 'Kakak saya yang satunya' yang disebut Rini kepada Sofyan.
"Waktu itu saya ketemu Pak Ari juga, Bu. Saya bilang 'Pak Ari mohon maaf, masalah share ini kita duduk lagi lah, Pak Ari....'" kata Sofyan, dalam percakapan melalui telepon itu.
Lalu dijawab Rini; "Saya terserah bapak-bapak lah, saya memang kan konsepnya sama sama Pak Sofyan."
Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Abra el Talattov menilai, dalam rekaman percakapan yang beredar di media sosial itu sangat kental aroma konflik kepentingan keluarga Soemarno.
"Pak Sofyan nyebut nama Pak Ari, sangat kental sekali conflict of interestnya," kata Abra.
Intelektual Muda Nahdlatul Ulama, Ubaidillah Amin Moch, menegaskan, rekaman percakapan Rini dengan Sofyan merupakan kesalahan berat karena terindikasi kuat melibatkan keluarga.
Menurut Ubaidillah, tindakan Rini akan menggerus citra pemerintahan Presiden Joko Widodo. "Saya sebagai kader muda NU sangat kecewa dengan terkuaknya kasus itu, jelas-jelas ini membawa kepentingan keluarga ke dalam proyek negara. Jika saya boleh memohon sebaiknya Bu Rini mundur saja sebagai pembantu presiden," terang Ubaidillah.
Baca juga:
Raup pendapatan 2017 Rp 598,9 T, Pertamina sebar dividen Rp 8,57 T
Dana utang cair Rp 2,28 triliun, pembangunan kereta cepat Jakarta-Bandung dikebut
Pertamina usul harga minyak mentah khusus, ini tanggapan SKK Migas
WIKA catat laba kuartal I 2018 turun 30,14 persen menjadi Rp 171,22 M