Lahan Sudah Siap, Ground Breaking Blok Masela Dijadwalkan Juli
Pelaksanaan ground breaking akan berlangsung di kawasan Blok Masela.
Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memastikan proyek pengembangan Blok Masela akan memasuki tahap baru dengan pelaksanaan ground breaking pada awal Juli 2026. Pemerintah juga menyatakan proses pembebasan lahan untuk proyek tersebut telah rampung.
Direktur Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM, Laode Sulaeman, mengatakan pelaksanaan ground breaking akan berlangsung di kawasan Blok Masela.
“Insyaallah awal Juli akan ada ground breaking di Masela,” kata Laode di Kementerian ESDM, Jumat (26/6).
Ia menambahkan, proyek tersebut ditargetkan mulai memasuki tahap konstruksi pada 2027. Sementara itu, produksi perdana (on-stream) diperkirakan mulai berlangsung pada 2029, sesuai target yang sebelumnya telah disampaikan Menteri ESDM.
Menurut Laode, seluruh proses pembebasan lahan yang dibutuhkan untuk proyek itu telah selesai sehingga tidak lagi menjadi kendala menjelang dimulainya pekerjaan fisik.
“Sudah selesai,” ujarnya saat ditanya mengenai pembebasan lahan.
Pasokan LNG
Sebelumnya, PT Perusahaan GasNegara (Persero) Tbk (PGN) siap menyerap pasokan LNG dari Proyek Abadi LNG, Blok Maselaguna mendukung keberlanjutan pasokan gas domestik.
Direktur Utama PGN Arief K Risdianto, mengatakan, pihaknya secara resmi menyepakati prinsip-prinsip komersial utama atau agreements in principle dengan Inpex Corporation terkait rencana penyerapan (offtake) LNG dan gas bumi dari Proyek Abadi LNG, Blok Masela.
"Kerja sama ini merupakan bagian dari komitmen nyata PGN dalam mengoptimalkan pemanfaatan sumber gas domestik untuk kebutuhan pelanggan, sekaligus sebagai bagian dari Pertamina Group dalam perannya memenuhi kebutuhan energi dan pondasi ketahanan energi nasional," ujar Arief, dikutip dari Antara, Kamis (21/5/2026).
Melalui kesepakatan ini, PGN dan Inpex selaku operator Blok Masela bersama mitra joint venture yaitu PT Pertamina Hulu Energi (PHE) dan Petronas Masela Sdn Bhd akan menindaklanjuti kerja sama ini ke tahap perjanjian jual beli (sale and purchase agreement/SPA) yang mengikat untuk pasokan LNG dan gas bumi.
Arief menambahkan peran PGN sebagai pembeli domestik tidak hanya mempercepat Proyek Abadi LNG menuju keputusan investasi akhir, tetapi juga menjadi sinergi kuat di dalam internal Holding Migas Pertamina, yang mana PHE bertindak di sisi hulu (upstream) dan PGN mengamankan di sisi hilir (downstream).
"Sinergi hulu-hilir ini memastikan sumber energi domestik Indonesia dapat dinikmati langsung secara optimal oleh masyarakat serta industri nasional," ujarnya.
Beberapa bulan lalu, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani mengungkapkan minat investasi Jepang di Indonesia masih sangat kuat, meski dunia tengah dilanda ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi.
Hal ini tercermin dari penandatanganan kerja sama ekonomi senilai USD 23,1 miliar dalam ajang Indonesia–Japan Business Forum yang digelar di Tokyo.
Terlepas dari ada geopolitik yang sedang berada di dunia ini, kepercayaan internasional terutama Jepang itu tetap besar dan mereka commit untuk menjalankan investasi yang ada di Indonesia ke depannya," jelas Rosan dalam keterangan tertulis, Selasa (31/3/2026).
Rosan merinci, dari total komitmen investasi USD 23,1 miliar, sebagian besar berasal dari sektor energi.
Nilai terbesar mencapai USD 20,9 miliar yang berasal dari kerja sama antara PT Pertamina dan perusahaan migas Jepang INPEX dalam pengembangan Lapangan Gas Abadi di Blok Masela.