Kubu Prabowo Janjikan RI Jadi Pengguna Biofuel Terbesar Dunia
Harryadin mengatakan pihaknya sudah menyiapkan strategi untuk mencari jalan keluar menekan defisit migas yang terjadi dalam beberapa bulan belakangan. Salah satu upaya yang dikaji adalah penggunaan biofuel atau bahan bakar yang berasal dari bahan tanaman.
Anggota Penelitian dan Pengembangan Calon Presiden nomor urut 02, Harryadin Mahardika, mengatakan pihaknya sudah menyiapkan strategi untuk mencari jalan keluar menekan defisit minyak dan gas (migas) yang terjadi dalam beberapa bulan belakangan. Salah satu upaya yang dikaji adalah penggunaan biofuel atau bahan bakar yang berasal dari bahan tanaman.
"Problem pertama, energi. Karena kita sudah sangat tergantung pada bensin dan solar sehingga ketika kita sudah jadi nett importir. Kita harus lepas dari ketergantungan. Yang dilakukan Prabowo nanti adalah Indonesia jadi biofuel terbesar di dunia," ujarnya di Media Center Prabowo-Sandi, Jakarta, Jumat (8/2).
Saat ini, Pemerintah Jokowi diakui sudah menerapkan penggunaan biofuel yaitu pada biodiesel 20 persen (B20). Namun, hal ini dinilai belum cukup efektif mendorong penurunan impor migas yang terus membengkak.
Jika nanti terpilih, Prabowo-Sandi akan memanfaatkan lahan tidur untuk ditanami berbagai jenis tanaman yang dapat mengasilkan biofuel. Hingga kini, tim Prabowo-Sandi telah mencatat ada sekitar 10 juta hektare (ha) lahan tidur yang bisa dimanfaatkan.
"Dari 10 juta hektare itu, target 2 juta hektare jadi Bio Etanol Estate (biofuel). Ini jadi tambahan energi nasional. Bio Etanol Estate ini tidak gunakan kelapa sawit karena merusak tanah. Jadi pakai 7 tanaman yang bakal dipakai, aren, singkong, lamtoro untuk reboisasinya," tandasnya.
Baca juga:
ESDM: Realisasi Penyaluran B20 Capai 92 Persen per Hari Ini
GAPKI Harap Penerapan B20 Perbaiki Harga CPO Indonesia
Menko Darmin: Program B20 Mampu Tekan Impor Solar 6 Juta Kiloliter di 2019
Sejak September 2018, B20 Hemat Rp 13,25 T Devisa dari Impor Solar
ESDM Catat Program B20 Hemat Devisa Rp 28,4 Triliun di 2018
Dampak Kebijakan B20 dan Kenaikan Tarif Impor Mulai Terlihat di Tahun 2019
Hingga Pertengahan Desember 2018, Realisasi B20 Capai 85 Persen