LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Korsel, India dan AS ramai-ramai biayai produksi film Indonesia

Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf, mengungkapkan industri perfilman Indonesia dilirik oleh negara dunia. Setidaknya tiga negara yakni Korea Selatan, India, dan Amerika Serikat telah ikut berinvestasi pada sejumlah film Tanah Air. Sebelumnya subsektor perfilman tertutup bagi asing atau dibatasi.

2017-11-15 21:07:11
Badan Ekonomi Kreatif
Advertisement

Kepala Badan Ekonomi Kreatif, Triawan Munaf, mengungkapkan industri perfilman Indonesia dilirik oleh negara dunia. Setidaknya tiga negara yakni Korea Selatan, India, dan Amerika Serikat telah ikut berinvestasi pada sejumlah film Tanah Air.

Dia menjelaskan Korea Selatan melalui CJ Entertainment ikut membiayai 30 persen biaya produksi film Pengabdi Setan. Selain itu, jaringan bioskop CGV juga telah banyak dibuka di Indonesia.

"Jangan takut mereka akan putarkan film Korea saja. Mereka akan menyesuaikan dengan pasar di sini," ungkapnya seperti dikutip dari Antara, Jakarta, Rabu (15/11).

Sementara itu, Amerika Serikat juga telah berinvestasi dalam produksi film Wiro Sableng. Sedangkan India menyatakan ketertarikan pada sektor eksibisi. "Amerika Serikat yang sudah masuk lewat film Wiro Sableng," katanya.

Triawan mengatakan tingginya minat asing untuk masuk ke subsektor perfilman adalah karena dikeluarkannya subsektor tersebut dari Daftar Negatif Investasi (DNI) pada 2016 lalu.

Sebelumnya subsektor perfilman tertutup bagi asing atau dibatasi maksimal 49 persen untuk usaha jasa teknik film termasuk studio shooting film, laboratorium film, dan fasilitas editing sound. Film editing dan film subtitle juga sebelumnya tertutup bagi asing. Namun, kini semua bidang itu terbuka 100 persen bagi investor asing dengan catatan tetap menggunakan praktisi film dari Indonesia.

Triawan menambahkan salah satu konglomerasi asal Korea Selatan, Lotte Group, dipastikan akan segera membuka bioskop pertamanya di Indonesia dalam waktu dekat. Perusahaan asal negeri ginseng itu mendapat izin prinsip dari Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Oktober 2017.

"Mereka bilang (akan buka bioskop) dalam waktu setahun ini, karena izin pinsipnya sudah keluar sebulan lalu, tepatnya tiga minggu yang lalu," katanya.

Triawan menjelaskan Lotte Group untuk membuka layar bioskop disambut positif lantaran pemerintah tengah berupaya mendorong terciptanya layar baru untuk mendukung perfilman nasional.

Meski demikian, ia mengaku belum mengetahui rincian nilai investasi dan target jumlah layar yang akan dibuka kelompok perusahaan itu. "Tapi kami sudah jelaskan agar bisa membuka layar bioskop di kota-kota kecil," ujarnya.

Baca juga:
Bekraf gelar Akatara untuk pertama kali, 'jodohkan' pembuat film dengan investor
Industri kreatif sumbang 7,38 persen terhadap PDB nasional
30 Tahun tertutup, industri film terbuka investasi asing di era Jokowi-JK
Bekraf tantang mahasiswa Unhas Makassar buat film lokal
Kemajuan industri kreatif Indonesia terkendala permodalan
KemenPAN-RB: Seleksi CPNS Bekraf paling ketat
Bos Bekraf akui pajak untuk Tere Liye Cs lebih tinggi dibanding negara lain

Advertisement
(mdk/bim)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.