LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
LIVE
  • News
  • Politik
  • Ekonomi
  • Artis
  • Trending
  • Tekno
  • Oto
  • Dunia
  • Gaya
  • Sehat
  • BolaSport
  • Foto
  • Video
  1. UANG

Konsumsi meningkat, Indonesia diprediksi jadi importir kopi 2 tahun mendatang

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memprediksi Indonesia akan mengimpor kopi sekitar dua hingga tiga tahun mendatang. Hal tersebut karena konsumsi kopi Indonesia terus meningkat sementara kemampuan untuk memproduksi kopi stagnan.

2018-08-08 11:18:29
Kemenko Perekonomian
Advertisement

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution memprediksi Indonesia akan mengimpor kopi sekitar dua hingga tiga tahun mendatang. Hal tersebut karena konsumsi kopi Indonesia terus meningkat sementara kemampuan untuk memproduksi kopi stagnan.

"Konsumsi kopi nasional itu pertumbuhannya pesat sekali. Kita mencatat 5 tahun terakhir rata 8,8 persen per tahun itu berarti 2 kali lipat dari peningkatan pendapatan perkapita. Jadi kalau pendapatan per kapita naik 1 persen dia konsumsi kopi naik 2 persen," ujarnya di Hotel Borobudur, Jakarta, Rabu (8/8).

"Sementara itu pertumbuhan kopi justru stagnan bahkan sedikit negatif kira-kira 0,3 persen per tahun dalam periode yang sama. Sehingga apabila kita tidak antisipasi ini tidak tertutup kemungkinan 2 sampai 3 tahun mendatang kita jadi importir kopi," sambungnya.

Advertisement

Sampai dengan tahun ini, tidak kurang dari 21 jenis kopi telah memperoleh sertifikasi Indikasi Geografis sebagai produk berkualitas dan spesifik (coffee specialty). Dengan data itu, Indonesia merupakan negara dengan jumlah keragaman kopi specialty terbanyak di dunia.

Areal kebun kopi di Indonesia mencapai 1,25 juta hektare, yang terdiri dari kopi robusta (0,91 juta ha atau 73 persen) dan arabika (0,34 juta hektare atau 27 persen). Baik kopi robusta maupun arabika, sebagian besar dikelola petani (96 persen untuk robusta dan 96,5 persen untuk arabika).

"Dominannya kebun kopi yang dikelola petani, merupakan pintu masuk untuk menjalankan pembangunan ekonomi menuju pertumbuhan dan pemerataan serta untuk penanggulangan kemiskinan," jelas Menko Darmin.

Advertisement

Menko Darmin menambahkan, luasan kebun kopi yang dikelola setiap keluarga petani umumnya relatif sempit. Rata-rata lahan yang dikelola sekitar 0,71 hektare per keluarga untuk robusta dan 0,58 hektare per keluarga untuk arabika.

"Padahal idealnya, luas minimal kebun kopi yang dikelola setiap keluarga petani adalah seluas 2,69 hektare per keluarga untuk kopi robusta dan 1,44 hektare per keluarga untuk kopi arabika," tandasnya.

Baca juga:
Pagi-pagi, Menko Darmin cicipi kopi hasil bumi
Kementan diminta evaluasi distribusi jagung hibrida UPSUS
Karikaya buah pencuci tangan Suku Tengger yang berubah jadi manisan
Pengusaha yakin Vatikan akan dukung Indonesia perangi boikot CPO
RNI tak khawatir larangan ekspor CPO pengaruhi keuangan anak usaha
PTP Mitra Ogan gandeng KBI kembangkan industri kelapa sawit RI

(mdk/azz)

Kontak Tentang Kami Redaksi Pedoman Media Siber Metodologi Riset Workstation Disclaimer Syarat & Ketentuan Privacy Kode Etik Sitemap

Copyright © 2024 merdeka.com KLY KapanLagi Youniverse All Right Reserved.