Kemenkeu: Ekonomi RI tak akan goyah meski Trump jadi Presiden AS
Dia menilai, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari fundamental ekonomi nasional. Hal ini dilihat dari pertumbuhan ekonomi yang masih di atas 5 persen, inflasi rendah, serta kurs yang sudah menembus Rp 13.300-an per USD.
Direktur Jenderal Pembiayaan pengelolaan dan Risiko Kementerian Keuangan, Robert Pakpahan menyebutkan, perekonomian di Indonesia tak akan berubah pasca terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat (AS). Bahkan, dia juga memperkirakan tak akan ada ancaman untuk kebijakan di sektor ekonomi Tanah Air.
"Fundamental ekonomi Indonesia kan tidak ada perubahan, tidak ada ancaman ke depan juga, memang ini terjadi saja," ujar Robert di Hotel Mulia Senayan, Jakarta Pusat, Selasa (15/11).
Akan tetapi, dia mengakui, pelemahan ekonomi yang terjadi di berbagai negara beberapa hari ini dipengaruhi oleh sentimen negatif dari pemilu AS. Namun, dia berharap hal ini hanya terjadi sementara dan situasi ekonomi global bisa kembali stabil.
Dia menilai, tidak ada yang perlu dikhawatirkan dari fundamental ekonomi nasional. Hal ini dilihat dari pertumbuhan ekonomi yang masih di atas 5 persen, inflasi rendah, serta kurs yang sudah menembus Rp 13.300-an per USD.
"Jadi, mudah-mudahan ini sentimen jangka pendek saja. Karena secara fundamental, politik atau ekonomi sama saja" tandasnya.
Baca juga:
Kemenkeu sebut Indonesia punya banyak potensi ekonomi selain di Jawa
Akhir tahun, BPS prediksi nilai ekspor Indonesia capai USD 140 M
BPS yakin efek Trump tak ganggu perdagangan Indonesia-AS
Oktober 2016, Rupiah kompak melemah terhadap mata uang dunia
Trump buat nilai tukar Yuan China ambruk ke level terendah 8 tahun
Rupiah bergerak fluktuatif, nyaris sentuh level Rp 13.400 per USD
Ini penjelasan BI soal Rupiah melemah usai terpilihnya Donald Trump