Kaltara Bidik Investor Asing Lewat Kaltara Investment Forum 2026, Perkuat Ekonomi Berkelanjutan
Kaltara Investment Forum 2026 sukses menarik investor global dari Korea Selatan, Malaysia, dan Singapura untuk pariwisata dan hilirisasi, memperkuat ekonomi berkelanjutan Kaltara.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Utara (Kaltara) kembali menyelenggarakan Kaltara Investment Forum (KIF) 2026 pada 8 Mei, bertempat di Kantor Gubernur Kalimantan Utara. Acara ini bertujuan untuk menarik investasi, baik dari dalam maupun luar negeri. Forum ini menghadirkan investor nasional serta delegasi dari Korea Selatan, Malaysia, dan Singapura.
KIF 2026 menjadi platform strategis bagi Kaltara untuk memperkenalkan beragam potensi investasi kepada para pemangku kepentingan. Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kalimantan Utara, Ferry Ferdinan Bohoh, mengonfirmasi kehadiran sejumlah investor internasional. Beliau menyatakan forum ini penting untuk menarik minat global.
Dengan mengusung tema “Mendorong Pertumbuhan Investasi Berkelanjutan di Kaltara melalui Pariwisata dan Pengembangan Sektor Hilir”, KIF 2026 diharapkan dapat memperkuat struktur ekonomi daerah. Gubernur Kalimantan Utara, Zainal A. Paliwang, menegaskan pentingnya forum ini untuk peningkatan investasi di sektor-sektor kunci.
Daya Tarik Investasi Global di Kaltara
Kehadiran investor dari tiga negara, yakni Korea Selatan, Malaysia, dan Singapura, menunjukkan daya tarik Kaltara di mata internasional. Sebelumnya, investor dari Australia juga sempat mengunjungi Kalimantan Utara, meskipun tidak dapat menghadiri forum secara langsung karena alasan logistik.
Ferry Ferdinan Bohoh menyoroti kekayaan sumber daya alam Kaltara yang melimpah, mirip dengan Kalimantan Timur, terutama di sektor pertambangan dan industri. Potensi ini menjadi magnet utama bagi para investor yang mencari peluang pengembangan bisnis. Kaltara memiliki kekayaan alam melimpah, mulai dari sektor energi terbarukan seperti hidroelektrik, potensi perikanan dan kelautan yang belum tergarap maksimal, hingga perkebunan. Keberadaan Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI) di Tanah Kuning-Mangkupadi menjadi daya tarik utama, menawarkan ekosistem industri yang ramah lingkungan dan terintegrasi. KIHI ini dirancang untuk menjadi pusat industri hijau terbesar di dunia, menarik investasi di sektor pengolahan nikel, aluminium, petrokimia, dan baterai kendaraan listrik.
Minat dari Korea Selatan, Malaysia, dan Singapura tidak lepas dari posisi strategis Kaltara yang berbatasan langsung dengan Malaysia dan Brunei Darussalam, menjadikannya gerbang perdagangan regional. Selain itu, komitmen Kaltara terhadap pembangunan berkelanjutan dan energi hijau sejalan dengan tren investasi global yang semakin mengedepankan aspek ESG (Environmental, Social, and Governance). Delegasi dari negara-negara tersebut menunjukkan ketertarikan pada proyek-proyek infrastruktur, energi, dan pengolahan sumber daya alam.
Forum tahunan seperti KIF 2026 ini berfungsi sebagai jembatan penting antara pemerintah daerah dan calon investor. Ini memungkinkan Kaltara untuk memamerkan keunggulan komparatifnya dan menjalin kemitraan strategis.
Pariwisata dan Hilirisasi sebagai Pilar Ekonomi
Gubernur Zainal A. Paliwang menekankan fokus KIF 2026 pada peningkatan investasi di sektor pariwisata dan hilirisasi. Kedua sektor ini dinilai memiliki potensi besar untuk mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara signifikan. Di sektor pariwisata, Kaltara menawarkan keindahan alam yang eksotis, mulai dari Taman Nasional Kayan Mentarang, Danau Sentarum, hingga potensi wisata bahari di pesisir. Pengembangan ekowisata dan budaya menjadi prioritas untuk menarik wisatawan domestik dan mancanegara. Sementara itu, hilirisasi sumber daya alam, khususnya di sektor perikanan dan perkebunan, akan menciptakan nilai tambah yang signifikan. Misalnya, pengolahan hasil laut menjadi produk bernilai tinggi atau pengolahan kelapa sawit menjadi produk turunan yang beragam.
Selain pertambangan dan industri, Kaltara juga menawarkan peluang investasi dalam pengembangan food estate. Proyek ini dipersiapkan untuk mendukung kebutuhan pangan Kawasan Industri Hijau Indonesia (KIHI), menunjukkan visi jangka panjang Kaltara. Proyek food estate di Kaltara bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan pangan lokal, tetapi juga untuk mendukung pasokan bagi ribuan pekerja di KIHI. Ini adalah bagian dari strategi ketahanan pangan nasional sekaligus menciptakan ekosistem ekonomi yang terintegrasi antara pertanian, industri, dan energi. Lahan yang luas dan subur di Kaltara sangat mendukung pengembangan pertanian modern dan berkelanjutan.
Investasi yang masuk diharapkan tidak hanya meningkatkan angka pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga menciptakan lapangan kerja baru. Gubernur Zainal berharap investasi ini juga mampu membuka peluang usaha dan akses permodalan bagi UMKM lokal. Investasi yang masuk diharapkan tidak hanya berfokus pada proyek-proyek besar, tetapi juga menciptakan efek domino bagi UMKM. Misalnya, kebutuhan akan jasa katering, penginapan, transportasi, hingga penyediaan bahan baku lokal akan meningkat. Pemerintah daerah berkomitmen untuk memfasilitasi kemitraan antara investor besar dengan UMKM, memberikan pelatihan, dan akses permodalan agar UMKM dapat tumbuh dan menjadi bagian integral dari rantai pasok industri.
Penguatan sektor pariwisata dan hilirisasi akan berkontribusi pada penciptaan struktur ekonomi yang lebih tangguh dan berkelanjutan. Ini sejalan dengan upaya pemerintah daerah untuk diversifikasi ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada satu sektor saja. KIF 2026 menegaskan komitmen Kaltara untuk menjadi destinasi investasi yang menarik dan bertanggung jawab. Dengan dukungan penuh dari pemerintah daerah, potensi sumber daya alam yang melimpah, serta visi pembangunan yang jelas, Kaltara siap menyongsong masa depan ekonomi yang lebih cerah, inklusif, dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakatnya.
Sumber: AntaraNews